Friday, January 19, 2007

Met Tahun Baru 1428H

Met Tahun Baru Hijrah..

Semoga berkah Allah semakin melimpah ruah di tahun ini.. untuk negeri tercinta ini.. untuk bangsa yang tercinta.. Indonesia.. tanah air tercinta..

Semoga rahmat Allah semakin tercurah kepada kita semua.. umat Rasulullah Muhamad saw di manapun berada.. di seluruh pelosok Indonesia.. di seluruh penjuru dunia..

amin

*Sukseskan 'Am Tarbawi 1428 H
Kuatkan tekad.. luruskan niat.. memperbaiki diri dan mengajak orang lain..

Seputar Puasa Muharram


Amalan Di Bulan Muharram (awal Tahun Hijriyah)

Pertanyaan

Assalamualaikum.
Amalan apa yang seharusnya kita lakukan berkait dengan moment pergantian tahun baru hijriyah?
Abu Aisyah

Jawaban:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Dalam kitab I‘anatut Thalibin, salah satu kitab yang banyak digunakan dalam mazhab Asy-Syafi‘iyyah, pada jilid 2 hal 267, disebutkan bahwa memang banyak amal-amal yang sering dilakukan pada momentum bulan Muharram. Namun penyusun kitab ini mengatakan bahwa hanya dua saja yang memiliki dasar kuat yaitu sunah puasa dan meluaskan belanja. Sedangkan selebihnya kebanyakan haditsnya dahif dan sebagian lagi mungkar maudhu‘.

Yang berkaitan dengan puasa adalah puasa sunah yaitu pada hari kesepuluh dan kesembilan di bulan itu. Sering juga disebut dengan ‘Asyuro dan Tasu‘a. Banyak sekali dalil yang menerangkan hal ini, antara lain:

Dari Abu Hurairoh RA ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: �Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum dibulan Alloh Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam� (HR Muslim 1162)

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan RA berkata: �Wahai penduduk Madinah, dimana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: �Ini hari Assyura, dan Alloh tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka� (HR Bukhori 2003)

Rasulullah SAW bersabda: �Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya� (HR Thohawy dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095)

Sedangkan amal lainnya �selain puasa dan meluaskan belanja- sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi, adalah amal yang dasar hukumnya lemah.

Beliau �An-Nawawi- mengutip nazham yang disusun anonim (tanpa nama pengarang) berkaitan dengan amalan di bulan Muharram itu yaitu:

Puasalah, Shalatlah, Silaturrahim-lah, kepala anak yatim usaplah, bersedekahlah, mandilah, luaskan belanja, potonglah kuku, kunjungi ulama, tengoklah orang sakit, pakailah celak mata, bacalah surat Ihklas 1000 kali.

Sebenarnya amal-amal itu semua baik-baik saja, selama tidak dikaitkan dengan momentum tertentu. Sehingga yang jadi titik masalah adalah dikaitkannya amal-amal itu dengan momen Muharram dengan keyakinan bahwa bila dilakukan di waktu lain, tidak sebesar itu pahalanya. Karena dasar haditsnya memang lemah, bahkan sebagian dhaif dan mungkar.

Wallahu A‘lam Bish-Showab,

Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/402


Puasa Sunat Di Bulan Muharram

Pertanyaan:
Assalaamu'alaikum Ustd,
Apakah ada ketentuan utk puasa sunat di bulan Muharram?
Sister

Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Yang disunnahkan secara tegas adalah berpuasa pada tanggal 10 Muharram dan sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Dan sering disebut juga juga dengan Shaum Asyuro.

Pada asalnya Shaum Asyuro ini adalah wajib. Kemudian kewajibannya dinasakh dengan kewajiban shaum Ramadhan, maka shaum tersebut berubah hukumnya menjadi sunnah. Oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan kepada umat Islam untuk melaksanakan shaum assyuraa (shaum hari kesepuluh) dari bulan Muharram ditambah dengan shaum sehari sebelumnya atau sesudahnya. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat. Antara lain:

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan RA berkata: �Wahai penduduk Madinah, dimana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: �Ini hari Assyura, dan Alloh tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka� (HR Bukhori 2003)



Juga ada hadits lainnya berikut ini :

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa, beliau pun bertanya? Mereka menjawab: Ini hari baik, hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa shaum pada hari itu. Maka Rasulullah SAW menjawab: �Aku lebih berhak terhadap Musa dari kalian�, maka beliau shaum pada hari itu dan memerintahkan untuk melaksanakan shaum tersebut. (HR Bukhori 2004)

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: pada saat Rasulullah SAW melaksanakan shaum Assyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata: �Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani�. Maka Rasulullah SAW bersabda: �Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan shaum pada hari kesembilannya�. Ibnu Abbas berkata: �Rasulullah SAW meninggal sebelum sampai tahun berikutnya� (HR Muslim 1134)

Rasulullah SAW bersabda: �Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya� (HR Thohawy dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095)



Adapun keutamaan shaum tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang telah lalu (HR Muslim 2/819)

Imam Nawawy ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: �Yang dimaksud dengan kafaraoh dosa adalah penghapus dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/5942


Shaum Tasyu‘a Dan Asyura

Pertanyaan:
Ustadz, bagaimana hukumnya melakukan shaum tasyu‘a dan asyura?
Ahmad

Jawaban:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Shaum Asyuro Pada asalnya adalah wajib. Kemudian kewajibannya dinasakh dengan kewajiban shaum Ramadhan, maka shaum tersebut berubah hukumnya menjadi sunnah. Oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan kepada umat Islam untuk melaksanakan shaum assyuraa (shaum hari kesepuluh) dari bulan Muharram ditambah dengan shaum sehari sebelumnya atau sesudahnya. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat. Antara lain:

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan RA berkata: �Wahai penduduk Madinah, dimana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: �Ini hari Assyura, dan Alloh tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka� (HR Bukhori 2003)

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa, beliau pun bertanya? Mereka menjawab: Ini hari baik, hari di mana Alloh menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa shaum pada hari itu. Maka Rasulullah SAW menjawab: �Aku lebih berhak terhadap Musa dari kalian�, maka beliau shaum pada hari itu dan memerintahkan untuk melaksanakan shaum tersebut. (HR Bukhori 2004)

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: pada saat Rasulullah SAW melaksanakan shaum Assyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata: �Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashroni�. Maka Rasulullah SAW bersabda: �Insya Alloh jika sampai tahun yang akan datang aku akan shaum pada hari kesembilannya�. Ibnu Abbas berkata: �Rasulullah SAW meninggal sebelum sampai tahun berikutnya� (HR Muslim 1134)

Rasulullah SAW bersabda: �Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya� (HR Thohawy dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095)

Adapun keutamaan shaum tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang telah lalu (HR Muslim 2/819)

Imam Nawawy ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: �Yang dimaksud dengan kafaroh dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Alloh akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.

Wallahu a‘lam bishshowab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/331

Friday, January 12, 2007

be just the way you are..


sebuah karya dari Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit....... ...
Jadilah belukar,
tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau.

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput,
tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya....

Bukan besar kecilnya tugas yang
menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu....
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri



Friday, December 22, 2006

Doa Untuk Orang Tua


Ya Allah..
Rendahkanlah suaraku bagi mereka
perindahlah ucapanku di depan mereka
lunakkanlah watakku terhadap mereka
dan lembutkanlah hatiku untuk mereka.

Ya Allah..
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
atas didikan mereka padaku dan pahala yang besar
atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku
peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku.

Ya Allah..
apa saja gangguan yang telah mereka rasakan
atau kesusahan yang mereka derita karena aku
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku
jadikanlah itu semua penyebab rontoknya dosa-dosa mereka
meningginya kedudukan mereka
dan bertambahnya pahala kebaikan mereka
dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.

Ya Allah..
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu,
ampunan-Mu serta rahmat-Mu.

Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Karunia Maha Agung
serta anugerah yang tak berakhir..
Allahumma amin

Thursday, December 21, 2006

Seputar Puasa Arafah


Dari Syariah Online tentang Puasa Arafah & Hari Tasyrik


Semoga bermanfaat
^_^

**


Puasa Idul Adha : 2 hari Atau 1 Hari sih ?

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr. wb.
Pak Ustadz yang terhormat.... saya ada pertanyaan mengenai puasa sunah Idul Adha (walaupun sudah lewat)
Berapa hari Puasa Idul Adha yang di contohkan oleh Nabi Muhammad SAW, soalnya seperti saya lihat ada yang 1 dan ada yang 2 (bila ada dengan dalilnya)
Wasalam..

Jaya

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d


Yang kami dapati dalilnya adalah puasa sunnah pada tanggal 9 Zulhijjah dan lainnya adalah puasa 8 hari pertama bulan Zulhijjah, yaitu dari tanggal 1 hingga tanggal 8.

Dalil puasa tanggal 9 Zulhijjah atau yang dikenal puasa Arafah itu adalah sabda Rasulullah SAW :

Puasa hari Arafah itu �ahtasibu alallah- bahwa dia itu menggugurkan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (HR. Muslim)



Sedangkan dalil puasa 8 hari bulan Zulhijjah adalah sebagai berikut :

Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW: [1] Puasa hari Asyura, [2] Puasa 1-8 zulhijjah, [3] 3 hari tiap bulan dan [4] dua rakaat sebelum fajar. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasai).

Dari Ibni Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,�Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah dari hari ini, (yaitu 10 hari bulan Zulhijjah)�. Mereka bertanya,�Ya Rasulullah SAW, dibandingkan dengan jihad fi sabilillah ?�. �Meskipun dibandingkan dengan jihad fi sabililllah��. (HR. Jamaah keculai muslim dan Nasai � Lihat Nailul Authar : 3/312).



Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/5474


Puasa Di Hari Tasrik

Pertanyaan:

Assalamualaikum...wr.wb

pak ustadz, saya mau bertanya :

1. Bolehkah kita berpuasa sunah senin-kamis atau puasa nya nabi Daud di hari tasrik, kalau kita tetap menjalaninya apakah kita berdosa ?

2. pada tgl 11, 12, 13 dzulhijjah masih bolehkah kita meniatkan untuk memotong hewan korban

wassalamu'alaikum Wr.Wb

Agus Hendra

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d


Puasa sunnah Senin-Kamis dan juga puasa Daud yang berselang-seling tiap hari itu bila jatuh pada hari tasyrik, maka hukumnya haram dikerjakan. Sebab tingkat larangannya jauh lebih kuat dan universal ketimbang nilai kesunnahannya.

Maksudnya, keharaman puasa pada hari Iedul Adh-ha dan hari-hari tasyrik itu memang mutlak. Sehingga jenis puasa apapun termasuk yang sudah bernilai wajib seperti nazar, juga haram untuk dilakukan.

Gambarannya adalah seorang yang bernazar bahwa bila pada hari itu dinyatakan lulus test dan mendapat pekerjaan, dia akan langsung berpuasa 4 hari berturut-turut keesokan harinya. Nah, kebetulan dia dinyatakan lulus pada tanggal 9 Zulhijjah. Sebenarnya karena sudah nazar, dia wajib berpuasa pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Tapi karena 4 hari itu adalah hari yang mutlak haram berpuasa, maka bila dia tetap puasa dengan dalih telah nazar, maka dia berdosa. Sebab nazarnya berhadapan dengan sesuatu yang haram secara mutlak, meski tidak sengaja. Karena itu dia wajib menunda nazarnya setelah tanggal 14 Zulhijjah.

Nah, kalau puasa nazar yang wajib pun haram dilakukan, apalagi puasa sunnah seperti Senin dan Kamis atau puasa sunah nabi Daud. Tentu jauh lebih haram lagi, bukan ?

Dalil yang mengharamkan puasa pada hari tasyrik ini adalah hadits Rasulullah SAW :

Dari Abu Hurairah ra bahwa mengutus Abdullah bin Huzaifah keliling Mina,�Janganlah kamu puasa pada hari-hari ini (tasyrik), sebab ini adalah hari-hari makan dan minum serta hari zikir kepada Allah SWT (HR. Ahmad dengan isnad jayyid)

Dari Ibnu Abbas ra bahwa mengutus seseorang untuk mengumumkan,�Janganlah kamu puasa pada hari-hari ini (tasyrik), sebab ini adalah hari-hari makan dan hari-hari jima� (hubungan suami istri) (HR. Ahmad dengan isnad jayyid)



Namun di dalam kitab Fiqih Sunnah karya As-Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa sebagian pengikut Asy-Syafi�iyah membolehkan puasa di hari tasyrik bila ada sebab sebelumnya, seperti nazar, bayar kaffarah atau qadha�.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/5479

Wednesday, December 20, 2006

Seputar Puasa Sunnah


Dari Syariah Online tentang

Puasa-Puasa Sunah & Puasa yang Diharamkan

Semoga bermanfaat
^_^

**

Puasa-Puasa Sunah

Pertanyaan:

assalamualaikum wr. wb.

ustadz, saya ingin tahu seluruh puasa sunah selama satu tahun beserta dalil dalilnya. terima kasih.

kurnia

Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Saudara Kurnia, puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Puasa enam hari pada bulan Syawwal.
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim, al-Tirmidzi, Abu dawud, dll).

2. Puasa Nabi Daud.
Nabi saw. bersabda, “Shalat yang paling Allah sukai adalah Shalat Daud. Dan puasa yang paling Allah sukai adalah puasa Daud. Ia tidur setengah malam, bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Lalu, ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari.” (HR al-Bukhârî).

3. Puasa Hari Asyura dan Tasu’a (10 dan 9 Muharram).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. ditanya, “Shalat apa yang paling baik sesudah salat wajib?” beliau menjawab, “Shalat di tengah malam.” Lalu beliau ditanya, “Puasa apa yang paling baik sesudah Ramadhan?” beliau menjawab, “Bulan Allah yang kalian sebut dengan Muharram.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).
Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Hari asyura sangat diagungkan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.” Maka, Rasulullah saw. bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari tersebut.” (Muttafaq alaih).
Dalam riwayat lain rasulullah saw. bersabda, “Jika aku masih hdiup hingga tahun depan, aku akan berpuasa hari kesembilannya (pula).” (HR Ahmad dan Muslim).

4. Puasa hari Arafah (9 Dzul hijjjah) bagi yang tidak menunaikan haji.
Nabi saw. bersabda, “Puasa hari Arafah bisa menghapus dosa selama dua tahun, tahun lalu dan tahun yang akan datang. Sementara, puasa hari Asyura menghapus doosa tahun yang lewat.” (HR al-Jamaah kecuali Bukhari dan al-Tirmidzi).

5. Puasa pada bulan Sya’ban
Usamah bin Zaid berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan seperti pada bulan Sya’ban.” Beliau menjawab, “Ia adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia. yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan saat amal diangkat menuju Tuhan, karena itu, aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR Abu Daud dan al-Nasai).

6. Berpuasa pada bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

7. Puasa tiga hari pada setiap bulan qamariyah (13,14,15).
Abu Dzarr al-Ghifari berkata, “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk berpuasa dalam sebulan tiga kali: yaitu tanggal 13, 14, 15. Menurut beliau, ia seperti puasa setahun.” (HR al-Nasai).

8.Puasa Senin Kamis
Nabi saw. biasa melakukan puasa pada hari senin dan kamis. Maka, beliau ditanya tentang hal itu. Beliau menjawab, “Amal hamba dihamparkan pada hari senin dan kamis. Aku ingin amalku dihamparkan sementara aku dalam kondisi puasa.” (HR Abu Daud).

Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/15/cn/20798


Kapan Puasa Diharamkan ?

Pertanyaan:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

pada tgl dan bulan apa saja puasa diharamkan ustadz

jazakallah khairan katsirah

Ibnu Adam

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,


Ada puasa pada waktu tertentu yang hukumnya haram dilakukan, baik karena waktunya atau karena kondisi pelakukanya.

1. Hari Raya Idul Fithri

Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya sakral umat Islam. Hari itu adalah hari kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena itu syariat telah mengatur bahwa di hari itu tidak diperkenankan seseorang untuk berpuasa sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa dimakan, paling tidak harus membatalkan puasanya atau tidak berniat untuk puasa.

2. Hari Raya Idul Adha

Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai Hari Raya kedua bagi umat Islam. Hari itu diharamkan untuk berpuasa dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan membagikannya kepada fakir msikin dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan kegembiraan dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.

3. Hari Tasyrik

Hari tasyrik adalah tanggal 11, 12 dan 13 bulan Zulhijjah. Pada tiga hari itu umat Islam masih dalam suasana perayaan hari Raya Idul Adha sehingga masih diharamkan untuk berpuasa. Pada tiga hari itu masih dibolehkan utnuk menyembelih hewan qurban sebagai ibadah yang disunnahkan sejak zaman nabi Ibrahim as.

4. Puasa sehari saja pada hari Jumat

Puasa ini haram hukumnya bila tanpa didahului dengan hari sebelum atau sesudahnya. Kecuali ada kaitannya dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa sunah nabi Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak. Maka bila jatuh hari Jumat giliran untuk puasa, boleh berpuasa.

5. Puasa sunnah pada paruh kedua bulan Sya`ban

Puasa ini mulai tanggal 15 Sya`ban hingga akhir bulan Sya`ban. Namun bila puasa bulan Sya`ban sebulan penuh, justru merupakan sunnah. Sedangkan puasa wajib seperti qadha` puasa Ramadhan wajib dilakukan bila memang hanya tersisa hari-hari itu saja.

6. Puasa pada hari Syak

Hari syah adalah tanggal 30 Sya`ban bila orang-orang ragu tentang awal bulan Ramadhan karena hilal (bulan) tidak terlihat. Saat itu tidak ada kejelasan apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum. Ketidak-jelasan ini disebut syak. Dan secara syar`i umat Islam dilarang berpuasa pada hari itu.

7. Puasa Selamanya

Diharamkan bagi seseorang untuk berpuasa terus setiap hari. Meski dia sanggup untuk mengerjakannya karena memang tubuhnya kuat. Tetapi secara syar`i puasa seperti itu dilarang oleh Islam. Bagi mereka yang ingin banyak puasa, Rasulullah SAW menyarankan untuk berpuasa seperti puasa Nabi Daud as yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.

8. Puasa wanita haidh atau nifas

Wanita yang sedang mengalami haidh atau nifas diharamkan mengerjakan puasa. Karena kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan tidak suci dari hadats besar. Apabila tetap melakukan puasa, maka berdosa hukumnya. Bukan berarti mereka boleh bebas makan dan minum sepuasnya. Tetapi harus menjaga kehormatan bulan Ramadhan dan kewajiban menggantinya di hari lain.

9. Puasa sunnah bagi wanita tanpa izin suaminya

Seorang istri bila akan mengerjakan puasa sunnah, maka harus meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya. Bila mendapatkan izin, maka boleh lah dia berpuasa. Sedangkan bila tidak diizinkan tetapi tetap puasa, maka puasanya haram secara syar`i. Dalam kondisi itu suami berhak untuk memaksanya berbuka puasa. Kecuali bila telah mengetahui bahwa suaminya dalam kondisi tidak membuthkannya. Misalnya ketika suami bepergian atau dalam keadaan ihram haji atau umrah atau sedang beri`tikaf.
Sabda Rasulullah SAW

Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa tanpa izin suaminya sedanga suaminya ada dihadapannya.



Karena hak suami itu wajib ditunaikan dan merupakan fardhu bagi istri, sedangkan puasa itu hukumnya sunnah. Kewajiban tidak boleh ditinggalkan untuk mengejar yang sunnah.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/6034

Thursday, December 14, 2006

WASIATKU KEPADA KALIAN WAHAI IKHWAN

"Wahai Ikhwan, hendaklah kalian menjalin hubungan dengan Al-Qur'an setiap
saat, supaya kalian mampu mendapatkan ilmu baru setiap kali berhubungan dengannya."

-Hassan Al-Banna-



Kita panjatkan puji dan syukur ke hadrat Allah swt. dan salam untuk junjungan kita Nabi
Muhammad S.A.W, seluruh ahli keluarga dan sahabatnya, serta sesiapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Wahai Ikhwan yang terhormat, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam
penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkati:
assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Sebelum kita memasuki kajian tentang kitab Allah swt. saya ingin mengingatkan wahai
Ikhwan, bahawa ketika menyampaikan kajiankajian ini, kita tidak semata-mata bertujuan
untuk memperoleh pemahaman dan melakukan analisis ilmiah.

Tujuan kita ialah membimbing rohani dan akal untuk memahami makna-makna umum yang terkandung di dalam Kitabullah.

Sehingga dari sini kita dapat memiliki prasarana untuk memahami Al-Qur'anul Karim, ketika kita membacanya.

Dengan demikian, kita telah melaksanakan sunnah tadabur, tadzakur, dan mengambil pelajaran sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Allah swt.
"Sesungguhnya Kami telah mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang
yang mahu mengambil pelajaran itu?" (Al-Qamar:32)

"Ini sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah, supaya
mereka memerhatikan ayat-ayat-Nya dan orang-orang yang mempunyai fikiran
mengambil pelajaran." (Shad: 29)

Ikhwanku yang tercinta, kajian-kajian tentang ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim yang
hendak saya sampaikan ini, tidak saya maksudkan menghimpun secara lengkap dan
luas aspek-aspek ilmiah dalam tema yang sedang kita bahas, tetapi saya sekadar ingin
mengarahkan rohani, hati, dan fikiran kepada maksud-maksud luhur yang dikehendaki oleh Kitab Allah swt., Al-Qur'anul Karim, ketika mengemukakan suatu pengertian. Jika ini telah wujud, wahai Akhi, maka di depan Anda dan di depan para pembahas yang lain terbuka pintu yang lebar untuk mengadakan kajian dan analisa.

Silakan mengkaji sekehendak Anda dan mempelajari dengan lebih terperinci. Sungguh
saya percaya, Ikhwan tercinta, saat-saat ketika kita berbahagia dengan perjumpaan kita seperti ini, tidak memberikan kesempatan yang luas kepada kita untuk mengadakan analisis ilmiah yang menghuraikan tema perbahasan dari segala sisi.

Ikhwanku, satu-satunya tujuan kita dari kajian-kajian ini adalah agar kita dapat
merenungkan isi kitab Allah swt. Ia ibarat lautan yang kaya dengan mutiara. Dari arah mana pun Anda mendatanginya, Anda akan memperoleh kebaikan yang melimpah ruah.

Kerana itu, perbahasan kita berkisar pada tujuan-tujuan yang bersifat global dan umum,
yang dikemukakan oleh ayat-ayat Al-Qur'anul Karim.

Ikhwan sekalian, marilah kita tolongmenolong untuk menyingkapnya. Alhamdulillah,
tujuan-tujuan tersebut cukup jelas dan terperinci.

Harapan kita, semoga masing-masing dari kita memperoleh kunci pemahaman kitab Allah, untuk memahami ayat-ayatnya. Dengan demikian, ia dapat menggunakan kunci tersebut untuk berinteraksi secara langsung dengannya setiap kali ia memperoleh waktu lapang dan setiap kali ia ingin menambah cahaya, faedah, dan manfaat yang ditimbanya dari Kitab ini.

Saya tidak menuntut bahawa kajiankajian ini merupakan puncak segala kajian,
kerana setiap kali manusia melakukan penjelajahan fikiran dan pandangan mereka
terhadap kitab Allah swt. nescaya ia akan mendapati makna-maknanya ibarat gelombang
laut yang tak pernah habis dan tidak bertepi. Kerana Al-Qur'an adalah firman Allah Yang Maha tinggi dan Maha besar.

Pesan saya kepada kalian, wahai Ikhwan, hendaklah kalian menjalin hubungan dengan Al-Qur'an setiap saat, supaya kalian mampu mendapatkan ilmu baru setiap kali berhubungan dengannya.

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami mengurus diri kami sendiri walau sekejap pun,
atau lebih cepat dari itu, wahai Sebaik-baik Dzat Yang Mengabulkan!

Hassan Al-Banna

Tuesday, December 12, 2006

Penyusunan Mushaf Al Qur'an

Penyusunan Mushaf Al Qur'an

Pertanyaan:
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pak Ustad, saya mau bertanya tentang sejarah penyusunan Al Qur'an. Siapa yang menentukan susunan Al Qur'an seperti saat ini? Apakah sahabat Usman r.a. atau Rasul? Sepanjang pengetahuan saya, wahyu (ayat) yang diturunkan kepada Rasul tidak runtut seperti susunan Al Qur'an saat ini. Jika Rasul yang menentukan apakah ada bimbingan dari ALLAH SWT? Mohon penjelasan (cerita) atas hal tersebut
Amu

Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi WabaraktuhAlhamdulillah,
Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba?d.

Pengumpulan Qur`an dalam Arti Penulisannya pada Masa NabiRasullullah telah mengangkat para penulis wahyu Qur`an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, `Ubai bin K`ab dan Zaid bin Sabit, bila ayat turun ia memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati.

Disamping itu sebagian sahabatpun menuliskan Qur`an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit: Kami menyusun Qur`an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang.

Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis Qur`an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan denagn demikian, penulisanQur`an ini semakin menambah hafalan mereka.

Jibril membacakan Qur`an kepada Rasulullah pada malam-malam bulan ramadan setiap tahunnya Abdullah bin Abbas berkata:`Rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahan pada bulan ramadan, ketika ia ditemui oleh jibril. Ia ditemui oleh jibril setiap malam; jbril membacakan Qur`an kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh jibril it ia sangat pemurah sekali.

Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur`an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.Tulisan-tulisan Qur`an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain.

Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka`ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas`ud telah menghafalkan seluruh isi Qur`an dimasa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur`an dihadapan Nabi, diantara mereka yang disebutkan diatas.

Rasulullah berpulang kerahmatullah disaat Qur`an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan diatas; ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf.

TetapiQur`an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyuruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang manasih (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya.

Susunan atau tertib penulisanQur`an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.

Andaikata (pada masa Nabi)Qur`an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-zarkasyi berkata:`Qur`an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudahQur`an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.`

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan:`Rasulullah telah wafat sedang Qur`an belum dikumpulkan sama sekali.` Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata:` Rasulullah tidak mengumpulkan Qur`an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar

Pengumpulan Qur`an dimasa Nabi ini dinamakan :
a) penghafalan, dan b) pembukuan yang pertama.

IV. Pengumpulan Qur`an pada Masa Abu Bakar

Abu Bakar menjalankan urusan islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu.

Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafalQur`an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur.

Umar bin Khatab merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukanQur`an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh paraqarri`.
Disegi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan ditempat-tempat lain akan membunuh banyakqari` pula sehingga Qur`an akan hilang dan musnah, Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umartersebut, kemudian Abu Bakar nenerintahkan Zaid bin Sabit, mengingat kedudukannya dalam qiraat , penulisan pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali.

Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisanQur`an itu.

Zaid bin Sabit melalui tugasnya yang berat ini dengan bersadar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran ( kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar.

Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran-lembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ketangan Hafsah putri Umar.

Pada permulaan kekalifahan Usman, Usman memintanya dari tangan Hafsah.

Zaid bin Sabit berkata:
Abu Bakar memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada disana.
Abu Bakar berkata :`Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa perang yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan qurra ; dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para qurra itu juga akan terjadi ditempat-tempat lain, sehingga sebagain besarQur`an akan musnah.
Ia menganjurkan agar aku memetrintahkan seseorang untuk menguimpulkanQur`an.
Maka aku katakan kepadanya, bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ?
tetapi Umar menjawab: dan bersumpah, demi Allah, perbuatan tersebut baik.
Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan hatiku untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat denganUmar.
` Zaid berkata lagi: `Abu Bakar berkata kepadaku: ` Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemammpuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilahQur`an dan kumpulkanlah.`
`Demi Allah`, Kata Zaid lebih lanjut`, ` sekiranya mereka memintaju untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku dari pada perintah mengumpulkanQur`an.
Karena itu aku menjawab: ` Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tridak pernah dilakukan oleh Rasulullah ?
Abu Bakar menjawab:`demi Allah itu baik,
Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana ia telah membukakan hati Abu Bakar dan Umar.
Maka akupun mulai mencariQur`an.
Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, dari keping-kepingan batu, dan dari hafalan para penghafal sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surah taubah berada pada Abu Huzaimah al-Anshari; yang tidak kudapatkan pada orang lain, sesungguhya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri? himgga akhir surah.
Lembaran-lembaran ( hasil kerjaku) tersebut kemudian disimpan ditangan Abu Bakar higga wafatnya.
Sesudah itu berpindah ketangan Umar sewaktu masih hidup, dan selanjutnya berada ditangan Hafsah bintiUmar.`

Zaid bin Sabit bertindak sangat teliti, hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan.

Kata-kata Zaid dalam keterangan diatas:`Dan aku dapatkan akhir surah at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari; yang tidak aku dapatkan pada oranglain.` Tidak menghilangkan arti keberhati-hatian tersebut dan tidak pula berari bahwa akhir surah Taubah itu tidak mutawatir. Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah.

Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya. Perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.

Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan :` Umar datang lalu berkata: `Barang siapa menerima dari Rasulullah sesuatu dariQur`an, hendaklah ia menyampaikannya.` Mereka menuliskan Qur`an itu pada lembaran kertas , papan kayu dan pelepah kurma. Dan Zaid tidak mau menerima dariQur`an mengenai seseorang sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Ini menunjukkan bahwa Zaid tidak merasa puas hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang menerimanya secara pendengaran (langsung dari Rasul), sekalipun Zaid sendiri hafal. Ia bersikap demikian ini karena sangat berhati-hati.

Dan diriwayatkan pula oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid:`Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, makatulislah.` Para perawi hadis ini orang-orang terpercaya, seklaipun hadis tersebut munqati,(terputus). Ibn Hajar mengatakan:`Yang dimaksudkan dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.`
As-Sakhawi menyebutkan dalam Jamalul qurra, yang dimaksdukan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah; atau dua orang saksi iti menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan ituQur`an diturunkan. Abu Syamah berkata: `Maksud mereka adalah agar Zaid tidak menuliskanQur`an kecuali diambil dari sumber asli yang dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah Taubah,`aku tidak mendapatkannya pada orang lain,` sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanyacatatan.`

Kita sudah mengetahui bahwa Qur`an sudah tercatat sebelum masa itu, yaitu pada masa Nabi. Tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma.

Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan ituQur`an diturunkan.

Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkanQur`an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali, Ubai dan IbnMas`ud. Tetpi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansuk dan secaraijma` sebagaimana mushaf Abu Bakar. Keistimewaan-keistimewaan ini hanya ada pada himpunanQur`an yang dikerjakan Abu Bakar.

Para ulama berpendapat bahwa penamaan Qur`an dengan`mushaf` itu baru muncul sejak saat itu, disaat Abu Bakar mengumpulkan Qur`an. Ali berkata:`Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga Allah mel;impahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar. Dialah orang yang pertama mengumpulkan kitabAllah.`

V. Pengumpulan ini dinamakan pengumpulan kedua.

Pengumpulan Qur`an pada Masa Usman

Penyebaran islam bertambah dan para Qurra pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk disetiap wilayah itu mempelajariqira`at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat)Qur`an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan `huruf ` yang dengannyaQur`an diturunkan. Apa bila mereka berkumpul disuatu pertemuan atau disuatu medan peperangan, sebag ian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini.terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah.

Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan mnimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membacaQyr`an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing memepertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan.

Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat.

Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf.

Usman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya.

Kemudian Usman memmanggil Zaid bin Sabit al-Ansari, Abdullah bin Zubair, Said bin`As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Ketiga orang terkahir ini adalah orang quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang quraisy itu ditulis dalam bahasa quraisy, karenaQur`an turun dengan logat mereka.

Dari Anas :
`Bahwa Huzaifah bin al-Yaman datang kepada Usman, ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian armenia dan azarbaijan bersama dengan penduduk Iraq, Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Usman`selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana peerselisihan orang-orang yahudi dannasrani.`

Usman kemudian mengirim surat kepada Hafsah yang isinya; `sudilah kiranya anda kirimkan lemgbaran-lembaran yang berisiQur`an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akanmengembalikannya.`

Hafsah mengirimkannya kepada Usman, dan Usman memerintahkan Zaid bin Sabit , Abdullah bin Zubair,Sa`ad bin `As dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk menyalinnya.mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Usman berkata kepada ketiga orang quraisy itu:
`bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Sabit tentang sesuatu dari qur`an, maka tulislah dengan logat quraisy karenaqur`an diturunkan dengan bahsa quraisy.`

Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Usman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Kemudian Usman mengirimkan kesetiap wilayah mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semuaQur`an atau mushaf lainnya dibakar.

Zaid berkata: `Ketika ami menyalin mushaf, saya teringat akan satu ayat dari surah al-Ahzab yang pernah aku dengar dibacakan oleh Rasulullah;maka kami mencarinya, dan aku dapatkan pada Khuzaimah bin Sabit al-Ansari, ayat ituialah`
`Di antara orang-orang mu`min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepadaAllah?.`(al-Ahzab:23)
lalu kami tempatkan ayat ini pada syrah tersebut dalam mushaf.`

Berbagai `Asar atau keterangan para sahabat menunjukkan bahwa perbedaan cara membaca itu tidak saja mengejutkan Huzaifah, tetapi juga mengejutkan para sahabat yang lain.

Dikatakan oleh Ibn Jarir :`Ya`kub bin Ibrahim berkata kepadaku: Ibn `Ulyah menceritakan kepadaku: Ayyub mengatakan kepadaku: bahwa Abu Qalabah berkata:
pada masa kekahlifahan Usman telah terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang, dan guru qiraat lain mengajarkan qiraat pada orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal demikian ini menjalar juga kepada guru-gurutersebut.`
Kata A yyub: aku tidak mengetahui kecuali ia berkata: `sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraatitu,` dan hal itu akhirnya sampai pada khalifah Usman.

Maka ia berpidato: `Kalian yang ada dihadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membacaQur`an. Penduduk yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushafQur`an pedoman) saj !`

Abu Qalabah berkata: Anas bin Malik bercerita kepadaku, katanya :`aku adalah salah seorang diantara mereka yang disuruh menuliskan ,`kata Abu Qalanbah: Terkadang mereka berselisih tentang satu ayat, maka mereka menanyakan kepada seseorang yang telah menerimnya dari Rasulullah. Akan tetapi orang tadi mungkin tengah berada diluar kota, sehingga mereka hanya menuliskan apa yang sebelum dan yang sesudah serta memniarkan tempat letaknya, sampai orang itu datang atau dipanggil.

Ketika penulisan mushaf telah selesai, Kahlifah Usman menulis surat keapada semua penduduk daerah yang sisinya:`Aku telah melakukan yang demikian dan demikian. Aku telah menghapuskan apa yang ada padaku, maka hapuskanlah apa yang adapadamu.`

Ibn Asytah meriwayatkan melalui Ayyub dari Abu Qalabah , keterangan yang sama. Dan Ibn Hajar menyebutkan dalam al-Fath bahwa Ibn Abu Daud telah meriwayatkannya pula melalui Abu Qalabah dalam al-Masahif.

Suwaid bin Gaflah berkata: `Ali mengatakan: `Katakanlah segala yang baik tentang Usman. Demi Allah apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushafQur`an sudah atas persetujuan kami. Usman berkata : `bagaimana pendapatmu tentang qiraat in ? saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qiraatnya lebih baik dari q iraat orang lain. Ini telah mendekati kekafiran. Kami berkata :`bagaimana penadapatmu ? ia menjawab : ` aku berpendapat agar manusia bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan, kami berkata : baik sekali pendapatmuitu.`

Keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Usman itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh hurufQur`an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat. Dan Usman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsah, lalu dikirimkannya pula pada setiap wilayah yaitu masing-masing satu mushaf.

Dan ditahannya satu mushaf untuk dimadinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama`mushaf Imam`.

Penamaan mushaf itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat dimana ia mengatakan:` Bersatulah wahai umat-umat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushafQur`an pedoman).`

Kemudian ia memerintahkan untuk membakar mushaf yang selain itu. Umatpun menrima perintah dengan patuh, sedang qiraat dengan enam huruf lainnya ditingalkan. Keputusan ini tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam katergori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir dan inilah yang terjadi.

Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh Usman: `Ia menyatukan umat islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf` berlainan `dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut, umatpun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan bagitu Usman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana.

Maka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya.sesuai dengn permintaan pemimpinnya yang adil itu; sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada.

Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya.tetapi hal itu bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri. Dan sekarang tidak ada lagi qiraat bagi kaum muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih olah imam mereka yang bijaksana dan tulus hati itu. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainya.

Apa bila sebagian orang lemah pengetahuan berkata : Bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membaca dengan cara itu ? maka jawabnya ialah :`Sesungguhnya perintah Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan (rukshah). Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajibpula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, bertianya harus pasti dan keraguan harus dihilangkan dari para qari. Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikanQur`an dikalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.

Jika memang demikian halnya maka mereka tidak dipandang telah meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yangv tujuh tersebut, yang menjadi kewajigan bagi mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut ternyatasangat berguna bagi islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama dari pada melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan pemeluknya dari padamenyelamatkannya.`

VI. Perbedaan antara Pengumpulan Abu Bakar dengan Usman

Dari teks-teks diatas jelaslah bahwa pengumpulan (mushaf oleh) Abu Bakar berbeda dengan pengumpulam yang dilakukan Usman dalam motif dan caranya.

Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnyaQur`an karena banyaknya para huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban dari para qari.

Sedang motif Usman dalam mengumpulkanQur`an ialah karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca Qur`an yang disaksikannnya sendiri didaerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang lain.

Pengumpulan Qur`an yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan satu tulisan atau catatanQur`an yang semula bertebaran dikulit-kulit binatang, tulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya serta terbatas dengan bacaan yang tidak dimansukh dan tidak mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketikaQur`an itu diturunkan.

Sedangkan pengumpulan yang dilakukan Usman adalah menyalinnya menjadi satu huruf diantar ketujuh huruf itu, untyuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya.

Ibnut Tin dan yang lain mengatakan:`Perbedaan antara pengumpulan Abu Bakar dan Usmanialah bahwa pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar disebabkan oleh kekawatiran akan hilangnya sebagianQur`an karena kematian para penghafalnya, sebab ketika itu Qur`an belum terkumpul disatu tempat. Lalu Abu Bakar mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran dengan menertibkan ayat-ayat dan surahnya. Sesuatu dengan petunjuk Rasulullah kepada mereka.

Sedang pengumpulam Usman sebabnya banyaknya perbedaan dalam hal qiraat, sehingga mereka membacanya menurut logat mereka masing-masing dengan bebas dan ini menyebabkan timbulnya sikap saling menyalahkan, karena kawatir akan timbul bencana , Usman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu dalam satu mushaf dengan menertibkan surah-surahnya dan membatasinya hanya pada bahasa quraisy saja dengan alasan bahwaqur`an diturunkan dengan bahasa mereka (quraisy). Sekalipun pada mulanya memang diizinkan membacanya dengan bahasa selain quraisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini sudah berakhir, karena itulah ia membatasinya hanya pada satu logat saja.

Al-Haris al-Muhasibi mengatakan:`Yang masyhur dikalangan orang banyak ialah bahwa pengumpul Qur`an itu Usman. Pada hal sebenarnya tidak demikian, Usman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya.serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan manaQur`an diturunkan.

Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Qur`an secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakaras-Sidiq.` .

Dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isiQur`an dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan kepada Usman ke berbagai daerah :

a . Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya tujuh buah mushaf yang dikirimkan ke Mekkah, Syam Basyrah, Kuffah, Yaman, Bahrain, dan Madinah. Ibn Abu Daud mengatakan:`Aku mendengar Abu Hatim as-Sijistani berkata: `telah ditulis tujuh buah mushaf, lalu dikirimkan ke Mekkah, Syam, Basyrah, Kuffah, Bahrain, Yaman dan sebuah ditahan diMadinah.`

b . Dikatakan pula bahwa jumlahnya ada empat buah masing-masing dikirimkan ke Iraq, Syam,Mesir dan Mushaf Imam, atau dikirimkan ke Kuffah, Basyrah, Syam dan mushaf Imam berkata Abu`Amr ad-Dani dalam al-Muqni.` `sebagian besar ulama berpendapat bahwa ketika Usman menulis Mushaf, ia membuatnya sebanyak empat buah salinan dan ia kirimkan kesetiap daerah masing-masing satu buah: ke Kufah , Basyrah, Syam dan ditinggalkan satu buah untuk dirinyasendiri.`

c . Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima. As-Suyuti berkata bahwa pendapat inilah yang masyhur.
Adapun lembaran-lembaran yang dikembalikan kepada Hafsah, tetap berada ditangannya hingga ia wafat, setelah itu lembaran-lembaran tersebut dimusnahkan, dan dikatakan pula bahwa lembaran-lembaran tersebut diambil oleh Marwan bin Hakam lalu dibakar.

Mushaf-mushaf yang ditulis oleh Usman itu sekarang hampir tidak ditemukan sebuah pun juga. Keteranagn yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir dalam kitabnya FadhailulQur`an menyatakan bahwa ia menemukan satu buah diantaranya di masjid Damsyik di Syam. Mushaf itu ditulis pada lembaran yang -menurutnya terbuat dari kulit unta. Dan diriwayatkannya pula mushaf Syam ini dibawa ke Inggris setalah beberapa lama berada ditangan kaisar rusia di perpustakaan Leningrad. Juga dikatakn pula bahwa mushaf itu terbakar dalam masjid Damsyik pada tahun 1310 H.

Pengumpulan Qur`an oleh Usman ini disebut dengan pengumpulan ketiga yang dilaksanakan pada 25 H.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in,
Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber : Syariah Online

Wednesday, November 29, 2006

Sholat Dhuha

Berikut artikel dari syariahonline tentang:
1. Dalil Sholat Dluha
2. Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha

Semoga bermanfaat
^_^

**

Dalil Sholat Dluha
-------------------------
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum Wr Wb
Langsung saja, baru-baru ini saya mendengar dari salah seorang ustadz bahwa dalil sholat dluha haditsnya dhaif.
ini cukup mengagetkan saya karena selama ini yang saya tahu banyak hadits yang menerangkan keutamaan sholat dluha ini.
Mohon tanggapannya. Jazzakumullah khairan katsiran
Wassalam
Abu Azzam

Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah yang dinjurkan oleh Rasulullah SAW . Ada sejumlah hadits shohih dan hasan yang menjelaskan tentang keutamaan melaksankan sholat sunnah tersebut, antara lain;

Dari Abu Dzar Al-Ghiffari RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

?Wajib bagi setiap sendi-sendi salah seorang dari antara kalian untuk bersedekah setiap hari. Setiap tasbih adalah shodaqoh, setiap tahmid adalah shodaqoh, setiap tahlil adalah shodaqoh, setiap takbir adalah shodaqoh, amar ma?ruf adalah shodaqoh. Nahyi al-munkar adalah shodaqoh. Dan cukup menggantikan itu semua dua rakaat yang dilaksanakan di waktu dhuha?
(HR. Muslim No. 720, Kitab Sholatul Musafirin Wa Qashruha, Bab Istihbab Sholat Adh-Dhuha. Jami?ul Ushul 9/436)

Dari Abu Hurariroh RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
?Tidak ada yang menjaga (pelaksanaan) sholat dhuha kecuali Awwab? dalam kesempatan lain : ?Ia termasuk sholat Awwabin?
(HR. Ibnu Khuzaimah 2/228, Al-Hakim 1/314, Thobrony 2/279. Hadits ini disahihkan oleh Imam Al-Hakim dengan syarat Muslim. Imam Al-Bany menghasankan hadis ini dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah No. 1994)

Dari Abu Darda dan Abu Dazr Al-Giffari RA, dari Rasulullah SAW, dari Alloh Swt. Dia berfirman:
?Wahai anak Adam, ruku?lah untukku di permulaan hari empat rakaat, maka akau akan mencukupkan bagimu di akhirnya?
(HR Ahmad dalam Al-Musnad 6/440-451, Tirmidzy No. 475, Hadits ini disahihkan oleh Ahmad Syakurt dalam tahqiqnya terhadap hadits Tirmidzy dan juga oleh Al-Bany dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy 1/147)

Dengan keterangan-keterangan di atas, jelas bahwa dalail-dalil yang menjelaskan sholat sunnah Dhuha adalah hadits-hadits yang bisa dijadikan hujjah karena merupakan hadis-hadis shohih maupun juga hadis hasan.

Wallahu A`lam Bish-Showab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber : Syariah Online

**

Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha
--------------------------------------------------
Pertanyaan:
Assalamu?alaikum
Bilakah pelaksanaan shalat dhuha? Kapan jam boleh melaksanakannya dan jam berapa berakhirnya?
Wassalamu?alaikum ..
Abu Hanifah

Jawaban:
Assalamu ?alaikum Wr. Wb.

Sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Terdapat sejumlah hadits yang menjelaskan keutamaan pelaksanaan sholat tersebut. Antara lain;

Dari Abu Hurariroh RA, ia berkata:
?Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga perkara: shaum tiga hari setiap bulan, dua rakaat sholat dhuha dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur?
(HR Bukhori 1981, Muslim 721)

Dari Abu Dzar RA dari Nabi SAW, beliau bersabda:
?Setiap pagi wajib untuk bershodakoh atas setiap tulang dari kalian. Maka setiap tasbih adalah shodaqoh, setiap tahmid adalah shodaqoh, setiap tahlil adalah shodaqoh, setiap takbir adalah shodaqoh, memerintahkan kebaikan adalah shodaqoh, melarang dari berbuat munkar adalah shodaqoh, dan cukup untuk menggantikan semua itu adalah dua rakaat yang dilaksanakan di waktu dhuha?
(HR. Muslim 720)

Adapun waktu pelaksanaannya dimulai sejak naiknya matahari seukuran satu tombak/ + 1 meter atau sekitar 07.00 dan berakhir sebelum tergelincirnya matahari -sebelum masuknya waktu yang terlarang melaksanakan sholat- atau sesaat sebelum masuknya waktu dzuhur. Dan disunnahkan agar diakhirkan pelaksanaannya sampai matahari meninggi dan suhu udara memanas.

Dari Al-Qasim Asy-Syaibani, sesungguhnya Zaid bin Arqom melihat orang-orang yang sedang melaksanakan sholat dhuha. Ia pun berkata: ?bukankah mereka telah mengetahui bahwa sholat di selain waktu ini lebih utama, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ?Sholat Awwabin itu ketika kerikil-kerikil menjadi merah (isyarat yang menunjukkan bahwa matahari telah tinggi dan panasnya telah menyengat)?
(HR> Muslim 748)

Wallahu a?lam bishshowab.
Wassalamu ?alaikum Wr. Wb.

Sumber : Syariah Online

Wednesday, November 22, 2006

Membaca Al Quran

membaca artikel ini, membuat ingin selalu membaca, membaca dan membaca Al Quran
sebagaimana doa yang sering dibaca setiap selesai membaca Quran..

"ya Allah, sayangi kami dengan Quran
jadikan Quran imam, cahaya, petunjuk dan rahmat
ya Allah, tegurlah kami jika melalaikannya
dan ajarkan mukjizat Al Quran
yang menjadi sumber rezeki
sepanjang malam dan sepanjang siang hari.."

selamat membaca Al Qur'an..:)
(1 juz sehari yah)

^_^

**

MEMBACA AL-QUR'ANUL KARIM DI BULAN RAMADHAN DAN LAINNYA
Oleh: Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al Jarullah

Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab Al-Qur'an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Adalah ditekankan bagi seorang muslim yang mengharap rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya untuk memperbanyak membaca Al-Qur'anul Karim pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Karena Al-Qur'anul Karim adalah sebaik-baik kitab, yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia; dengan syari'at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat.

Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dengan firmanNya "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. " (Thaha:123)

Janganlah seorang muslim memalingkan diri dari membaca kitab Allah, merenungkan dan mengamalkan isi kandungannya. Allah telah mengancam orang-orang yang memalingkan diri darinya dengan firman-Nya: "Barangsiapa berpaling dari Al-Qur'an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari Kiamat. " (Thaha : 100)

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. " (Thaha: 124

Di antara keutamaan Al-Qur'an
1. Firman Allah Ta 'ala :
"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. " (An-Nahl: 89)

2. Firman Allah Ta'ala .
“... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. " (Al-Ma'idah: 15-16)

3. Firman Allah Ta 'ala :
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)

4. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa 'at bagi pembacanya. " (HR. Muslim dari Abu Umamah)

5. Dari An-Nawwas bin Sam'an radhiallahu 'anhu, katanya : Aku mendengar Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur'an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini. " (HR. Muslim)

6. Dari Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu, katanya: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. " (HR. Al-Bukhari)

7. Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu, katanya: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. " (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih)

8. Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dikatakan kepada pembaca Al-Qur'an: "Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca. "(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).

9. Dari Aisyah radhiallahu 'anhu, katanya: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.

10. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Tidak boleh hasut kecuali dalam dua perkaua, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur'an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang "(Hadits Muttafaq 'Alaih).
Yang dimaksud hasut di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. [Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469]

Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki Anda kepada jalan yang diridhaiNya untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Ta'ala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Qur'an berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur'an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.

Dan perlu Anda ketahui, bahwa membaca Al-Qur'an yang berguna bagi pembacanya, yaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada
Allah dan takut akan siksa-Nya. Al-Qur'an itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur'an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya).

Firman Allah Ta 'ala :
"lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran. " (Shad: 29)

Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Qura'nul Karim, sebagaimana firman Allah :
"Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an ... "(Al-Baqarah: 185)

Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur'anul Karim.

Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur'an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Qur'an kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan

Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. " (HR. Muslim

Ada dua cara untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim
1. Membaca ayat yang dibaca sahabat Anda
2. Membaca ayat sesudahnya. Namun cara pertama lebih baik

Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu '), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzzammil: 6).

Disunatkan membaca Al-Qur'an dalam kondisi sesempurna mungkin, yakni dengan bersuci, menghadap kiblat, mencari waktu-waktu yang paling utama seperti malam, setelah maghrib dan setelah fajar. Boleh membaca sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kendaraan. Berdasarkan firman Allah :

"(Yaitu) orang-orang yang dzikir kedada Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring... "(Ali Imran: 191). Sedangkan Al-Qur'anul Karim merupakan dzikir yang paling agung.

Catatan:
Disalin dari: Risalah Ramadhan; karya Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al Jarullah.
Edisi Indonesia: Risalah Ramadhan. Penerjemah: Muhammad Yusuf Harun, Ainul Haris Arifin, Ahmad Musthalih Afandi. Penerbit: Yayasan Al-Sofwa, Jakarta. Cat II, Des 1998; hal.49-59
Copyright pada Yayasan Al-Sofwa, Jakarta


Artikel ini dapat digunakan, diperbanyak, dan disebarluaskan atau dipublikasikan di media lain secara bebas untuk tujuan bukan komersil (non profit); dengan syarat tidak mengahapus atau merubah atribut penulis dan mencantumkan sumber pengambilan sebagai manifestasi sikap amanah ilmiah.

Tuesday, November 21, 2006

Rumus Canggih

subhanallah..
pertama kali dengar nasyid ini dari radio MQ
mata langsung melirik radio
dan telingapun menyimak baik-baik..
subhanallah..
je-ve banget gitu loh.. :)

ntar klo udah dapat mp3-nya
insya Allah akan di-upload ke multiply deh.. :)

sementara belum ada,
silakan beli kasetnya jeve
atau pinjem juga boleh
atau request aja ke radio MQ
atau ke radio tarbiyah Jepang
atau ke radio qommunity Jerman
seep deh.. :)

^_^

**

Rumus Canggih
Album : Senyum Dong Fren
Munsyid : Justice Voice
http://liriknasyid.com


*Dibolak balik kok makin asyik
Makin dibaca semakin menarik
Coba diresapi kok tambah asyik
Sampe-sampe mata gak mau melirik 2x

Reff 1:
Orang bilang (hey) kalo baca Qur'an (hey)
Hati jadi tentram (hey) hidup jadi ringan (hey)
Lalu kucoba (hey) dan terus kucoba (hey)
Eh ternyata bener... syukur alhamdulillah...
Alhamdulillah... 2x

( Fill in "mau dilanjut??)
(back to * and Reff 2)

Reff 2:
Orang bilang (hey) kalo baca Qur'an (hey)
Otak jadi cerdas (hey) pikir jadi tajam (hey)
Lalu kubaca (hey) dan terus kubaca (hey)
Selesai membaca aku nemu rumus canggih...

(Fill in "hah, rumus canggih??!!")
bener nggak?... bener...
betul nggak?... betul....
sumpeh nggak?... sumpeeeh...
(Fill in "rumus apa atuh... Akang?".. + rame-rame)

Rumus tentang kehidupan, rumus tentang peradaban
Rumus tentang kemanusiaan, rumus tentang keimanan
Rumus tentang PERNIKAHAN, rumus tentang kebahagiaan
Rumus tentang keadilan, rumus tentang kebenaran
Semuanye ade di dalam Al-Qur'an

(back to * trus (reff 1 & 2)
Ending:
Dibolak balik (dgn cannon)
Rame-rame ngajak ngaji

Rumus Canggih
karya: Asep JV
Arr.: Asep, Jusvan & JV
Vokal: Asep
Backing Bariton: Feli, Back 1: Eko P, Back 2: Jusvan
Instrumen: Faris & Wiwied
Bass: Wiwied



Sumber http://www.klikjv.com

Monday, November 20, 2006

Keutamaan Membaca Al-Quran

Berikut dikutip dari Kitab Riyadhus-Shalihin buku II
Afwan..
File-nya didapat dari internet, jadi masih terjemahan bahasa Melayu
Agak beda dikit bahasanya dengan yang terbitan Pustaka – Amani Jakarta
But, it’s much better then write it down my-self..

^_^

**

Keutamaan Membaca Al-Quran

988. Dari Abu Umamah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat - yakni pertolongan - kepada orang-orang yang mempunyainya."
(Riwayat Muslim)

Maksudnya mempunyainya ialah membaca al-Quran yang di-lakukan dengan mengingat-ingat makna dan kandungannya lalu mengamalkan isinya, mana-mana yang merupakan perintah dilaku-kan dan yang merupakan larangan dijauhi.

989. Dari an-Nawwas bin Sam'an r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Al-Quran itu akan didatangkan pada hari kiamat nanti, demi-kian pula ahli-ahli al-Quran yaitu orang-orang yang mengamalkan al-Quran itu di dunia, didahului oleh surat al-Baqarah dan surat ali-lmran. Kedua surat ini menjadi hujah untuk keselamatan orang yang mempunyainya-yakni membaca, memikirkan dan mengamalkan.
(Riwayat Muslim)

990. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sebaik-baik engkau semua ialah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya pula."
(Riwayat Bukhari)

991. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Orang yang membaca al-Quran dan ia sudah mahir dengan bacaannya itu, maka ia adalah beserta para malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti, sedang orang yang membacanya al-Quran dan ia berbolak-balik dalam bacaannya-yakni tidak lancar - juga merasa kesukaran di waktu membacanya itu, maka ia dapat memperoleh dua pahala."
(Muttafaq 'alaih)

992. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Perumpamaan orang mu'min yang suka membaca al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanyapun enak dan perumpamaan orang mu'min yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit."
(Muttafaq 'alaih)

993. Dari Umar bin al-Khaththab r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan adanya kitab al-Quran ini - yakni orang-orang yang beriman - serta menurunkan derajatnya kaum yang Iain-Iain dengan sebab al-Quran itu pula - yakni yang menghalang-halangi pesatnya Islam dan tersebarnya ajaran-ajaran al-Quran itu."
(Riwayat Muslim)

994. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Tidak dihalalkanlah dengki itu, melainkan terhadap dua macam orang, yaitu: Orang yang diberi kepandaian oleh Allah dalam hal al-Quran, lalu ia berdiri dengan al-Quran itu - yakni membaca sambil memikirkan dan juga mengamalkannya - di waktu malam dan waktu siang, juga seorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta lalu ia menafkahkannya di waktu malam dan siang - untuk kebaikan."
(Muttafaq 'alaih)

995. Dari al-Bara' bin 'Azib r.a., katanya: "Ada seorang lelaki membaca surat al-Kahfi dan ia mempunyai seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali, kemudian tampaklah awan menutupinya. Awan tadi mendekat dan kuda itu lari dari awan tersebut. Setelah pagi menjelma, orang itu mendatangi Nabi s.a.w. menyebutkan apa yang terjadi atas dirinya itu. Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Itu adalah sakinah* - ketenangan yang disertai oleh malaikat - yang turun untuk mendengarkan bacaan al-Quran itu."
(Muttafaq 'alaih)

Dalam Hadisnya Zaid bin Tsabit r.a., katanya: "Saya berada di samping Rasulullah s.a.w., lalu beliau dilutupi oleh sakinah." Yang dimaksudkan ialah ketenangan ketika ada wahyu turun pada beliau. Di antaranya lagi ialah Hadisnya Ibnu Mas'ud r.a.: "Tidak jauh bahwa sakinah itu terucapkan pada lisannya Umar r.a." Ada yang mengatakan bahwa sakinah ialah kedamaian dan ada yang mengatakan kerahmatan.

996. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah -yakni al-Quran, maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

997. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada sesuatu apapun dari al-Quran - yakni tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat al-Quran yang dihafalnya, maka ia adalah sebagai rumah yang musnah - sunyi dari perkakas."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

998. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Dikatakanlah - nanti ketika akan masuk syurga - kepada orang yang mempunyai al-Quran - yakni gemar membaca, mengingat-ingat kandungannya serta mengamalkan isinya: "Bacalah dan naiklah derajatmu - dalam syurga - serta tartilkanlah - yakni membaca perlahan-lahan - sebagaimana engkau mentartilkannya dulu ketika di dunia, sebab sesungguhnya tempat kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca," maksudnya kalau membaca seluruhnya adalah tertinggi kedudukannya dan kalau tidak, tentulah di bawahnya itu menurut kadar banyak sedikitnya bacaan.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Friday, November 17, 2006

Pecinta Kekasih

sebuah nasihat dari Nasihat Imam Ibnul Qayyim..

Jika kamu ingin tahu
Seberapa besar cinta Allah SWT kepadamu
Dan kepada selainmu,
Lihatlah keadaan-keadaan berikut ini:

Lihatlah, seberapa besar intensitas cintamu
Kepada kalam-Nya di hatimu!

Lihatlah seberapa dahsyat kenikmatanmu
Dan keasyikanmu tatkala mendengar
lantunan firman-firman-Nya!

Sudahkah keasyikan itu
Melebihi keasyikan para pecandu musik
Dan nyanyian
Tatkala nyanyian itu didendangkan?

Sesungguhnya wajar
Jika seseorang mencintai seorang kekasih,
Lalu suara dan pembicaraan kekasihnya itu
Menjadi sesuatu
yang sangat dicintai…


Tidak boleh didamba-dambakan kecuali dua kenikmatan:
Seseorang yang diberi Allah Al Qur’an,
lalu ia membacanya sepanjang malam dan siang
Dan seseorang yang diberi Allah harta,
Lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.

(Muttafaq ‘Alaih)

Thursday, November 16, 2006

Indahnya Hidup di Bawah Naungan Al Qur’an

quote:
"Al Qur'an.
Barangsiapa yang mempelajari ilmunya akan terdahulu,
barangsiapa yang berbicara dengannya akan benar,
barangsiapa berhukum dengannya akan adil,
barangsiapa yang beramal dengan membacanya akan dicukupkan pahalanya,
dan barangsiapa yang berdakwah kejalannya akan diberi hidayah ke jalan yang lurus."
(hadits)

Selamat menikmati indahnya hidup.. :)

^_^

**


Indahnya Hidup di Bawah Naungan Al Qur’an

“Dan barangsiapa berpaling dari adz-`Dzikr-KU, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan KAMI akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
(QS Thaha, 20:124)

SIKAP RASULULLAH SAW DAN PARA SAHABATNYA TERHADAP AL-QUR’AN

Di dalam kitab Mabahits fi Ulumil Qur’an ust DR Manna Khalil al-Qaththan menggambarkan sikap Nabi Muhammad SAW dan kecintaan beliau kepada al-Qur’an sbb :
Adalah Rasulullah SAW itu sangat mencintai wahyu…
beliau senantiasa menunggu2 datangnya ayat2 ALLAH SWT dengan penuh kerinduan..
Sehingga jika turun suatu ayat, maka tidak terasa bibirnya yang mulia itu segera bergerak2 menirukan ucapan Jibril as sebelum wahyu itu selesai dibacakan…
Sehingga ALLAH SWT menurunkan ayat yang menjamin Nabi SAW akan hafal seluruh al-Qur’an dan memerintahkan beliau SAW agar sabar mendengarkan dulu sampai ayat tersebut selesai dibacakan baru kemudian mengikutinya (QS Al-Qiyamah, 17-18).

Hal ini begitu membekas dan mempengaruhi para sahabat ra dan para salafus shalih, sehingga mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap ayat2 al-Qur’an, dan menjadikannya perintah harian dari RABB-nya, sebagaimana perkataan salah seorang sahabat mulia Ibnu Mas’ud ra : “Demi DZAT yang tidak ada Ilah kecuali DIA, tidak ada satupun surah al-Qur’an yang turun kecuali aku mengetahui dimana surah itu turun, di musim panas atau di musim dingin, dan tidaklah satu ayatpun dari Kitabullah yang diturunkan kecuali aku mengetahui tentang apa ayat itu turun dan kapan ayat itu turun.”

Perhatian para sahabat dan salafus shalih yang luarbiasa besar ini kepada al-Qur’an bukanlah disebabkan karena pada waktu itu tidak ada peradaban lain yang maju dan modern (karena pada waktu itu dunia telah dikuasai oleh dua super power dengan segala khazanah peradabannya, yaitu Byzantium di Barat dan Kisra di Timur), tetapi focusing tersebut sengaja dilakukan oleh Rasulullah SAW agar membersihkan jiwa, pola pikir dan kehidupan para sahabat ra, karena proses kebangkitan sebuah generasi akan sangat tergantung pada apa yang menjadi dasar kebangkitan tersebut.

Demikian pentingnya pembersihan mindframe ini sehingga beliau menegur Umar ra, ketika ia membaca al-Qur’an dan Taurat secara berganti2 untuk memperbandingkan, kata beliau SAW pada sahabatnya itu :
“Buanglah itu! Demi DZAT yang jiwa Muhammad berada ditangan-NYA, seandainya Musa as masih hidup sekarang, maka tidak halal baginya kecuali harus mengikutiku, akulah penghulu para nabi dan akulah penutup para nabi.”

Sehingga sikap generasi sahabat Rasulullah SAW terhadap al-Qur’an adalah :

1. Membaca dengan benar, mengimani ayat-ayatnya dan mentadabburkannya.

Firman Allah SWT : “Apakah mereka tidak mentadabburkan al-Qur’an? Ataukah dalam hati mereka ada kunci?” (QS Muhammad : 24).

2. Mencurahkan perhatian yang besar untuk membaca dan mempelajari kandungan al-Qur’an,

yang sangat jauh berbeda dengan generasi kaum muslimin saat ini yang demikian jauh dari petunjuk PEMILIK dan PENCIPTA-nya, yang jangankan memahaminya, membacanyapun seolah tak ada waktu…

Maha Benar ALLAH dengan firman-Nya :
“Pada hari dimana berkatalah Rasul : Wahai RABB-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan. Dan demikianlah KAMI jadikan bagi setiap nabi, musuh-musuh dari orang-orang yang berdosa, dan cukuplah RABB-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.”
(QS al-Furqan : 30-31).

Berkata al-hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya :
Yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an dalam ayat ini yaitu mencakup :
Mengutamakan hal-hal lain daripada al-Qur’an,
tidak beriman pada ayat-ayatnya,
tidak mentadabburkannya,
tidak memahami apa yang ia baca,
tidak mengamalkan ayat-ayat yang dibaca,
disibukkan oleh syair-syair, pendapat-pendapat dan lagu-lagu..
(Tafsir Ibnu Katsir, juz III hal 317)

3. Menjadikan Al-Qur’an sebagai standar kehidupan dan sumber pengambilan hukum dalam tiap aspek kehidupan mereka.

Dalam salah satu hadits disebutkan:
Dari Harts al-A’war ia berkata : Aku lewat di mesjid dan melihat orang-orang sedang asyik bercerita-cerita, maka aku kabarkan pada Ali ra : Wahai Amirul Mu’minin, tidakkah Anda mengetahui orang sedang asyik bercerita?
Maka beliau menjawab : Apakah mereka melakukannya?
Maka jawabku : Benar!
Maka kata beliau : Adapun aku pernah dinasihati oleh kekasihku SAW :
Sesungguhnya kelak akan datang bencana.
Maka kataku : Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasul Allah?

Maka jawab beliau SAW : Kitabullah!

Karena di dalamnya terdapat
kabar tentang ummat-ummat sebelum kalian,
dan berita-berita tentang apa yang akan terjadi setelah kalian,
dan hukum-hukum bagi apa yang terjadi di masa kalian,
ia adalah jalan yang lurus dan tidak ada kebengkokan,
tidaklah para penguasa yang meninggalkannya akan dihinakan ALLAH,
dan tidaklah orang yang mencari petunjuk selainnya akan disesatkan ALLAH,
dia adalah tali ALLAH yang sangat kokoh,
cahaya-NYA yang terang benderang,
peringatan-NYA yang paling bijaksana,
jalan-NYA yang paling lurus.

Dengannya tidak akan pernah puas hati orang yang merenungkannya,
dan tidak akan bosan lidah yang membacanya,
dan tidak akan lelah orang yang membahasnya.
Tidak akan kenyang ulama mempelajarinya,
tak akan puas muttaqin menikmatinya.

Ia tak akan bisa dipatahkan oleh banyaknya penentangnya,
tak akan putus keajaibannya,
tak akan henti-henti jin yang mendengarkannya berkata :
Sungguh kami telah mendengar Al-Qur’an yang menakjubkan…

Barangsiapa yang mempelajari ilmunya akan terdahulu,
barangsiapa yang berbicara dengannya akan benar,
barangsiapa berhukum dengannya akan adil,
barangsiapa yang beramal dengan membacanya akan dicukupkan pahalanya,
dan barangsiapa yang berdakwah kejalannya akan diberi hidayah ke jalan yang lurus.
Amalkan ini wahai A’war..
(HR ad-Darami dan teks ini darinya, juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata hadits gharib)

Keadaan Ummat Terdahulu (orang-orang Kafir) terhadap Kitab-kitab Mereka.

Marilah kita bercermin pada profil ummat-ummat terdahulu terhadap kitab-kitab mereka dan marilah kita bandingkan dengan keadaan kita masing-masing, agar kita tidak tersesat sebagaimana mereka dahulu telah tersesat dari jalan ALLAH SWT :

1. Ummi (Bodoh tidak dapat membaca dan memahaminya)
“Dan diantara mereka ada orang-orang yang ummi, tidak mengetahui isi Taurat, kecuali cerita-cerita dari orang-orang lain saja dan mereka hanya menduga-menduga saja.”
(QS al-Baqarah : 78)

2. Beriman secara parsial
“Apakah kalian beriman pada sebagian Taurat dan ingkar kepada sebagian yang lain.”
(QS al-Baqarah : 85)

3. Berusaha untuk berpaling dari Al-Qur’an kepada selainnya
“Dan sesungguhnya mereka hampir-hampir memalingkan kamu dari apa yang telah KAMI wahyukan kepadamu, agar kamu membuat selain al-Qur’an secara bohong terhadap KAMI, dan kalau sudah demikian tentulah mereka mengambilmu sebagai sahabat setia …”
(QS al-Isra : 73)

4. Sengaja menghindar dari pengaruh Al-Qur’an
“Dan orang-orang kafir berkata : Janganlah kalian mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkannya.”
(QS Fushshilat : 26)

5. Cinta dunia dan takut mati
“Sekali-sekali janganlah begitu! Sebenarnya kalian (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan lari dari akhirat.”
(QS al-Qiyamah : 20-21)

Nabiel Fuad Al-Musawa
REFERENSI :
Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Khalil al-Qaththan


Sumber : Al-Ikhwan

Wednesday, November 15, 2006

Kewajiban Kita Terhadap Al Quran

sebuah tausiyah dari Imam Syahid..
mengingatkan kembali untuk semakin meningkatkan interaksi dengan Al Quran
"minimal 1 juz per-hari"
insya Allah..

selamat menyimak tausiyah beliau.. :)
^_^


**


Kewajiban Kita Terhadap Al – Quran

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan selawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, untuk segenap keluarga dan sahabat baginda, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwan tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Seseorang layak berasa pelik terhadap sikap kebanyakan manusia terhadap kitab Allah swt.: Al-Qur'anul Karim.

Ikhwan sekalian, sebagaimana saya katakan sebelumnya, sikap kebanyakan manusia pada waktu ini terhadap kitab Allah ibarat sekelompok manusia yang diliputi kegelapan dari segala penjuru. Mereka keliru, berjalan tanpa sebarang petunjuk pun. Kadang-kadang mereka
jatuh ke jurang, kadang-kadang melanggar batu, dan kadang-kadang saling berlanggaran.

Keadaan mereka terus demikian, tersesat membabi buta dan berjalan dalam kegelapan yang pekat. Padahal di hadapan mereka ada sebuah tombol elektrik yang andaikata mereka tekan dengan jari, maka gerakan yang sedikit itu dapat menyalakan sebuah lampu yang terang-benderang.

Inilah Saudarasaudaraku, perumpamaan umat manusia sekarang dan sikap mereka terhadap kitab Allah.

Seluruh dunia ini tersesat dalam kegelapan yang pekat. Seluruh alam berjalan tanpa petunjuk.
Berbagai-bagai sistem telah rosak, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, dengan cepat sistem itu menemui kegagalan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, kerana di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Qur'anul Karim, kitab Allah swt.

“Bak Unta mati kehausan di padang pasir,sedangkan air terpikul di punggungnya”

Mereka tidak mendapatkan jalan petunjuk, padahal di hadapan mereka ada cahaya yang sempurna.

"Tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnyaKami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Asy-Syura: 52)

"Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A 'raf: 157)

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan dan mengeluar-kan mereka dari gelap gelita kepada cahaya terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Maidah: 15-16)

"Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari
kegelapan menuju cahaya." (Ibrahim: 1).

"Maka berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya (Al-Qur'an) yang telah
Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (At-Taghabun: 8).

Ikhwan sekalian, kembali saya ingin katakan bahawa barangkali suatu hal yang wajar jika orang-orang kafir yang mata mereka belum dibuka untuk melihat cahaya ini, berjalan tanpa petunjuk dalam kehidupan mereka. Ini logik dan dapat diterima, kerana Allah swt. berfirman,
"Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka ia tiada memiliki cahaya sedikit pun." (An-Nur:40).

Bagaimana pula halnya dengan orang-orang mukmin yang mengimani, membenarkan, mencintai, menghormati dan mengagungkannya, yang tidak ada satu pun dari rumah-rumah mereka dan tidak satu pun dari saku-saku baju mereka yang tidak terdapat mushaf dari Kitabullah.

Ikhwan sekalian, orang-orang kafir telah menipu mereka dengan cahaya itu, menjauhkan mereka dari petunjuk, menyesatkan mereka dari jalan, dan menjauhkan tangan mereka dari sumber mulia dan dari tombol elektrik ini; kadang-kadang dengan jerat politik, kadang-kadang dengan perangkap ilmu duniawi.
"Mereka hanya mengetahui kehidupan dunia yang lahir, sedangkan tentang kehidupan akhirat mereka lalai." (Ar-Rum: 7)

Mereka terus memperdayakan; terkadang dengan harta benda, kadang-kadang melalui hawa
nafsu, kadang-kadang dengan tipu muslihat, dan di saat lain dengan kekuatan, paksaan, dan
kekejaman.

Wahai Ikhwan sekalian, semua pembawaan ini terus digunakan oleh para penganut kekafiran.
Orang-orang kafir itu menjauhkan manusia dan kaum muslimin dan petunjuk. Telah lama kaum
muslimin mengikuti dan berlari di belakang kesesatan mereka. Akibatnya, mereka lupa kepada
sumber petunjuk ini dan mengekor saja di belakang orang-orang kafir. Padahal Allah swt. telah
memperingatkan mereka dari tindakan itu.
"Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti orang-orang kafir, nescaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lantas jadilah kalian orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah merupakan Pelindung kalian, dan Dialah sebaik-baik Penolong." (Ali Imran: 149- 150)

Ikhwan sekalian, karena Allah mengetahui bahawa orang-orang kafir kadangkala menggertak orang-orang beriman dengan kekuatan yang mereka miliki, maka Allah swt. ingin mencabut pengaruhnya dari hati kaum muslimin.
"Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu, Tempat kembali mereka adalah neraka; dan alangkah buruknya tempat kembali orang-orang yang zalim." (Alilmran:151).

Kemudian Allah swt. menyebutkan peristiwa yang nyata untuk menjadi pengiring bagi dalil yang tegas itu.
"Sesungguhnya Allah telah memenuhi janjiNya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan menderhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada yang mengkehendaki dunia dan di antara kalian ada yang mengkehendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah pemberi kurnia bagi orangorang yang beriman." (Ali Imran: 152).

Ikhwan sekalian, demikianlah. Allah swt. memperingatkan orang-orang mukmin dengan Al-Qur'an, jangan sampai mereka mengikuti jalan orangorang kafir atau tertipu oleh tipu muslihat dan rancangan mereka.

"Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, nescaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian
beriman." (Ali Imran: 100)

"Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah." (Ali Imran: 102- 103)

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati orang-orang kafir, nescaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kalian orang-orang yang rugi.”(Ali Imran: 149).

Orang-orang kafir itu diciptakan dengan memiliki watak menipu dan memperdaya orangorang beriman.

"Sebahagian besar Ahli Kitab berkeinginan untuk mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman kerana kedengkian (yang timbul) dan din mereka, setelah nyata bagi mereka kebenaran." (Al-Baqarah: 109)
"Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga
kalian dan mereka sama." (An-Nisa': 89)
"Jika mereka menangkap kalian, nescaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti, dan mereka ingin supaya kalian menjadi kafir." (Al-Mumtahanah: 2).

Ikhwan sekalian, jelas sekali bahawa dada mereka tidak akan terbebas dari keinginan ini, iaitu keinginan agar orang-orang beriman kembali menjadi kafir.
"Mereka tidak henti-henti memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian jika mereka mampu." (Al-Baqarah: 217).

Ini merupakan ilustrasi yang tepat mengenai perasaan orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman. Sekalipun demikian, orang-orang yang beriman didominasi oleh rasa toleransi, sehingga mereka melupakan peringatan ini.
"Beginilah kalian ini. Kalian mencintai mereka padahal mereka tidak mencintai kalian, dan kalian beriman kepada semua kitab. Jika berjumpa dengan kalian, mereka berkata, 'Kami beriman.' Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit hujung jari lantaran marah bercampur benci kepada kalian. Katakanlah, 'Mampuslah kalian kerana kemarahan kalian itu.' Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kalian memperoleh kebaikan, mereka bersedih hati, tetapi jika kalian ditimpa bencana, mereka bergembira kerananya. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun. Sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka kerjakan." (Ali Imran; 119-120).

Meskipun ada peringatan semacam ini dan kitab Allah telah mengungkap keadaan jiwa mereka sedemikian rupa, kita tetap menjerumuskan diri kita ke jurang dan berjalan mengikuti orang- orang kafir. Bagaimana tidak, kita masih berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang kafir, padahal mereka menipu kita dengan segala pembawaan dan cara. Cahaya ini memang tidak dimiliki oleh orangorang kafir, namun mereka cukup gembira bila mereka berhasil menjauhkan kita darinya.

Bagaimanakah keadaan yang terjadi sekarang, wahai Ikhwan sekalian? keadaan yang terjadi adalah, orang-orang kafir tidak percaya kepada cahaya ini, sedangkan orang-orang beriman tidak mengetahuinya, keadaan ini sungguh ironi.

Keadaan yang membawa manusia kepada segala macam penderitaan. Kerana itu, orang-orang yang telah mengambil petunjuk Al-Qur'an wajib menyelamatkan diri sendiri sekaligus orang lain. Lantas apakah kewajipan kita sebagai orang yang telah beriman kepada Al-Qur'an?

Ikhwan sekalian, kewajiban kita terhadap Al-Qur'anul Karim ada empat:

1. Hendaklah kita memiliki keyakinan yang sungguh dan kuat bahawa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah swt. ini.

Sistem sosial apa pun yang tidak bersumber atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur'anul Karim pasti bakal menemui kegagalan. Misalnya, banyak orang mengatasi masalah ekonomi dengan terapi pembaikan, "tidak menggemukkan dan tidak pula sekadar menghilangkan lapar".

Sementara Al-Qur'anul Karim telah menggariskan aturan tentang zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus sekaligus menanamkan kasih sayang antara sesama manusia.
Dengan arahan semacam masalah kemiskinan tentu dapat segera diselesaikan. Tanpa jalan penyelesaian ini, tidak mungkin ia dapat diselesaikan. Selain penyelesaian semacam ini, semuanya hanya ibarat pil penenang sementara.

Contoh lain adalah masalah kesihatan.

Ikhwan sekalian, kalian mendapati mereka ibarat orang yang membuka botol minuman berdiameter tiga milimeter, sedangkan di bawahnya terdapat tapak yang berdiameter tiga meter. Mereka membuat rumah-rumah sakit dan klinik-klinik kesihatan, tetapi akar penyakit tidak dibanteras. Misalnya, taraf hidup yang masih rendah. Padahal Islam menghendaki peningkatan taraf hidup dan pembanterasan berbagai-bagai kemungkaran.

Rasulullah S.A.W bersabda:
"Tidaklah perilaku keji terlihat nyata di tengahtengah suatu kaum, kecuali akan banyak penyakit menimpa mereka, yang tidak pernah menimpa orangorang sebelum mereka."

Ikhwan sekalian, contoh lain misalnya pembanterasan jenayah. Apakah kita akan memenjarakan pencuri ke penjara agar dia mengasah kehebatannya kepada jenayah-jenayah sehingga semakin lama masa tinggalnya di penjara, semakin tinggi pula kehebatanya dalam melakukan jenayah? Andaikata nas Al-Qur'an berikut ini diambil, "Atau diasingkan dari negeri (tempat kediamannya)", nescaya hal ini akan memberikan banyak manfaat kepada Negara.

2. Bagaimana pendapat Anda jika sistem ini diterapkan secara menyeluruh?

Ikhwan sekalian, penyelesaiannya hanya Islam. Islam tidak menerima persekutuan. Kerana itu, kita wajib mempercayai bahawa hanya Islam yang layak menyelamatkan umat ini dari setiap bencana yang menimpa dalam seluruh aspek kehidupan. Maka dengan itu, kaum muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui tanpa menjalinkan hubungan dengan Allah swt. melalui Qur'an.

Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum Salafus soleh, semoga Allah meredhai mereka. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al-Qur'anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktu mereka untuk itu, sehingga Rasulullah saw. melarang mereka berlebihan di dalamnya.

Setidak-tidaknya, Saudaraku, hendaklah kita membaca Al-Qur'an secara rutin, meskipun sedikit. Sunah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari.

Sayidina Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, "Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang ditinggalkan."

Rasulullah S.A.W bersabda:
"Barangsiapa membaca satu ayat dari Kitabullah, maka dia memperoleh sepulub kebaikan untuk setiap huruf. Barangsiapa mendengarkannya, maka ia akan memperoleh cahaya pada bari kiamat."

Orang yang telah menghafalkan Al-Qur'an kemudian melupakannya, dia telah melakukan satu dosa besar. Kerana itu, Ikhwan sekalian, Anda harus rajin membaca Al-Qur'anul Karim dan menetapkan bacaan rutin dan kitab Allah swt. untuk din Anda.

Hendaklah kalian tekun melaksanakannya, sebagai peneladanan terhadap para pendahulu umat ini, sebagai pelaksanaan perintah Allah swt. dan agar mendapatkan manfaat dan kandungan kitabNya.

3. Setelah itu, ketika membaca Al-Qur'an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya dan ketika mendengarkan kita juga harus memperhatikan adab-adab mendengarnya.

Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya. Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini turun dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu menangis. Jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-olah dirimu menangis."

Akhi, ini ertinya adalah, bahawa jika hati anda belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah Anda berusaha untuk menghayatinya. Janganlah syaitan memalingkan anda dari keindahan perenungan sehingga anda tidak mendapatinya.

Tekunlah! andaikan dalam membaca anda hanya dapat menggerakkan lidah, teruskanlah membaca!
Hendaklah anda menyediakan waktu untuk menghafal dan mengulang.
Usahakan agar anda benar-benar meresapi kandungan makna Al-Qur'an.

Banyak riwayat menceritakan bahawa pada suatu malam Sayidina Umar bin Khathab ra. pergi berkeliling kota. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang membaca, "Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi bukit Thur. Dan demi kitab yang ditulis. Pada lembaran yang terbuka. Dan demi Baitul Makmur. Dan demi atap yang ditinggikan (langit). Dan demi laut yang di dalam tanahnya ada api. Sesungguhnya seksa Tuhanmu pasti terjadi. Tidak ada yang dapat mencegahnya." (At-Thur: 1-8).

Ketika mendengar bacaan ini, beliau berkata, "Inilah sumpah yang benar, demi Tuhan Pemilik Ka'bah." Beliau lantas tersungkur pengsan. Beliau dimamah oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama tiga puluh hari, dijenguk oleh masyarakat.

Akhi, demikian halnya dengan Umar bin Abdul Aziz. Suatu ketika beliau datang ba'da isya'. Beliau lantas berwudhu dan berdiri melaksanakan solat. Beliau membaca, "(Kepada malaikat diperintahkan) kumpulkanlah orang-orang zalim dan teman sejawat mereka beserta apa yang selalu mereka sembah, selain Allah. Lantas tunjukkan kepada mereka jalan menuju neraka Jahim. Dan hentikan mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya." (Ash-Shafat; 22-24).

Beliau terus mengulang-ulang ayat, "Dan hentikanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya," sampai muadzin datang untuk mengumandangkan azan subuh.

Demikianlah, Ikhwan sekalian, penghayatan mereka terhadap kitab Al-Qur'anul Karim. Pada zaman Imam Syafii, jika mereka ingin mempelajari kitab Allah di Makkah, mer eka mengirimkan surat kepada beliau, agar beliau membacakan kitab Allah. Beliau tidak pernah terlihat menangis, seperti pada hari tersebut.

Hendaklah kita juga membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang membuahkan.

Jika Al-Qur'an ini dapat menyentuh hati orang-orang kafir, yang merupakan manusia paling jauh kemungkinannya untuk menghayati kitab Allah, maka bagaimana pula dengan kita? Lihatlah Utbah bin Rabi'ah (seorang kafir), ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dari Rasulullah saw., dia berkata.
"Sesungguhnya bacaan ini mengandungi kelazatan dan keindahan. Atasnya membuahkan, bawabnya menyejukkan. Sungguh, ini bukan perkataan manusia."

Begitu pula yang terjadi pada Najasyi dan kaumnya ketika mendengar Ja'far bin Abi Thalib membaca Al-Qur'an. Teresak-esak mata mereka dialiri oleh air mata.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang beriman?

Seharusnya, ketika orang-orang beriman membaca kitab Allah swt. adalah sebagaimana yang difirmankanNya, "Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan, iaitu Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang; gemetar kerananya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang pada waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu ia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya." (Az-Zumar: 23).

Akhi, setelah kita beriman bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukumhukumnya.

Hukum-hukum Al-Qur'anul Karim menurut yang saya ketahui, terbahagi kepada dua:

a Hukum-hukum individu yang berkaitan dengan setiap orang,
seperti solat, puasa, zakat, haji, taubat, serta akhlak, yang meliputi kejujuran, menepati janji, kesaksian, dan amanat.

Ini semua, wahai Saudaraku, merupakan hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia secara umum. Setiap orang dapat melaksanakannya sendiri. Ketika Anda membaca Al-Qur'an, Anda harus mematuhi hukum-hukum dan batasan-batasannya.

Barangsiapa yang belum pernah solat, kemudian membaca firman Allah swt., "Dan dirikanlah solat," (An-Nur: 56) maka dia harus melaksanakan solat. Dan ketika membaca, "Dan janganlah kamu mengurangi timbangan manusia," (Al-A'raf: 85) maka Anda harus memenuhi hak setiap orang. Seharusnya Anda tidak perlu menunggu orang lain untuk melaksanakan hal ini. Sesuatu yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.

b. Kedua adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat, atau hukumhukum yang berkaitan dengan penguasa.

Ini semua merupakan kewajiban negara, misalnya menegakkan hudud (persetujuan hukum), jihad, dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Negara wajib melaksanakannya. Jika negara tidak melaksanakannya, ia bertanggungjawab di hadapan Allah swt. Kewajiban rakyat dalam keadaan demikian adalah menuntut elaksanaannya. Sesungguhnya Islam tidak membebaskan umat dari tanggungjawab.

Sekarang, bagaimana umat dapat mewujudkan hal ini? Hendaklah umat bersatu padu. Hendaklah umat menyatukan kata, menuntut, dan terus menuntut. Hendaklah umat menggunakan segala cara untuk menyampaikan tuntutan ini, khususnya jika sistem kenegaraan yang berlaku seperti sistem kenegaraan di Mesir. Jika demikian, tidak ada alasan bagi siapa pun
untuk tidak menyatakan hal ini dengan terus terang. Umat tidak dapat dilepaskan dari kewajipan mengawasi Negara.

Ikhwan sekalian, hendaklah kita menyatukan barisan dan menyatukan kata, sehingga kita menjadi kuat, diperhitungkan, dan mempunyai suara agar negara dapat memandang kenyataan yang ada. Dengan demikian, cepat atau lambat kita akan sampai kepada tujuan, insyaAllah.

Semoga selawat dan salam dilimpahkan kepada junjungan kita, Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Hassan Al-Banna

Tuesday, November 14, 2006

Adab Membaca Al Quran

teringat tausiyah dari seorang ustadz..
ketika membaca Al Quran, usahakan untuk selalu meng-Hadirkan Hati..
bahwa yang kita baca adalah kalam Allah, Sang Khaliq..
mengagungkan Kalam-Nya..
merasakan ke-Maha Agung-an Allah Al Azhiim..
ke-Maha Perkasa-an Allah Al Aziz..
ke-Maha Kuasa-an Allah Al Akbar..

niatkan membaca adalah untuk ibadah..
untuk mencari ridho-Nya..

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."
(QS 35:29-30)

selamat membaca Al Qur'an.. :)

**


ADAB MEMBACA AL QUR’AN

1. NIAT YANG IKHLAS KARENA ALLAH

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW:
“Sesungguhnya ALLAH SWT tidak memandang kepada bentuk tubuhmu dan tidak juga pada rupa wajahmu, tetapi IA memandang kepada keikhlasan hatimu.”
(HR Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata:
“Aku membonceng Nabi SAW yang sedang mengendarai Keledai, maka beliau SAW berkata padaku: Wahai Mu’adz, tahukah Anda apa hak ALLAH terhadap hamba dan apa hak hamba terhadap ALLAH?
Maka saya menjawab: ALLAH dan Rasul-NYA lebih mengetahui.
Maka kata Nabi SAW: Hak ALLAH terhadap hamba adalah agar mereka beribadah kepada-NYA dan tidak menyekutukan-NYA sedikitpun. Dan hak hamba terhadap ALLAH adalah bahwa ALLAH tidak akan menyiksa hamba yang tidak menyekutukan kepada ALLAH sedikitpun.”
(HR Muttafaq ‘alaih)

2. BERWUDHU SEBELUM QIRO’AH

“Seseorang memberi salam kepada Nabi SAW ketika beliau SAW sedang berwudhu maka beliau SAW menunda menjawab salam tersebut sampai beliau SAW selesai berwudhu’ baru kemudian dijawab salamnya oleh beliau SAW, sambil bersabda: Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu tadi, melainkan karena aku tidak suka menyebut nama ALLAH, kecuali dalam keadaan suci.”
(HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)

3. MENGGUNAKAN SIWAK SEBELUM QIRO’AH

“Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.”
(HR Bukhari dan Muslim)

4. MEMILIH TEMPAT/PAKAIAN YANG SUCI

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda:
“Bahwa mesjid ALLAH tidak layak dikenai kencing atau kotoran manusia, karena sesungguhnya ia adalah untuk berdzikir kepada ALLAH dan membaca Al-Qur’an.”
(HR Muslim)

5. MEMBACA ISTI’ADZAH

“Maka apabila kamu membaca al-Qur’an maka mohonlah perlindungan dari Syaithon yang terkutuk.”
(QS An-Nahl 16:98)

6. SUNNAH MEMBAGUSKAN SUARA

“Barangsiapa yang tidak menghiasi al-Qur’an dengan suaranya maka bukan termasuk golonganku.”
(HR Abu Daud)

“Sungguh sebaik-baiknya suara manusia yang membaca al-Qur’an ialah yang jika engkau mendengar suara bacaannya maka engkau merasa bahwa ia seorang yang sangat takut kepada Allah.”
(HR Abu Daud)

7. MERENDAHKAN SUARA SAAT MEMBACA TERUTAMA SAAT BERADA DITEMPAT YANG RAMAI

“Dan serulah Rabb-mu dengan merendahkan diri dan merasa takut, sesungguhnya IA tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS Al-A’raaf, 7:55)

“Dan sederhanakanlah berjalanmu dan rendahkanlah suaramu, karena sesungguhnya sejelek-jelek suara itu adalah suara keledai.”
(QS Luqman, 31:19)

8. MERASA TAKUT DAN KHUSYU’

“Dan apabila dibacakan dihadapan mereka ayat-ayat ALLAH, maka mereka segera bersujud sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”
(QS Al-Israa’, 17:109)

“Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: Bersabda Nabi SAW padaku pada suatu hari sebagai berikut: Wahai Ibnu Mas’ud, bacakan al-Qur’an untukku.
Maka aku bertanya: Apakah aku akan membacakannya untukmu padahal al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?
Jawab beliau SAW: Aku senang mendengarkannya dari orang lain.
Maka kubacakan surat An-Nisaa’ dihadapan beliau SAW, sampai ketika aku sampai pada ayat: Maka bagaimanakah keadaanmu hai Muhammad, saat KAMI mendatangkan setiap ummat dengan seorang saksi nanti dan KAMI datangkan engkau sebagai saksi atas mereka semua? (QS An-Nisaa’ 4:41);
Maka bersabdalah beliau SAW padaku: Cukup sampai disini hai Ibnu Mas’ud.
Maka aku melirik pada wajah beliau SAW, maka kulihat wajahnya sudah penuh dengan linangan airmata.”
(HR Bukhari Muslim)

9. MERASAKAN BAHWA ALLAH SWT SEDANG MENDENGARKAN BACAANNYA

“Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sesuatupun yang lebih disenangi oleh ALLAH SWT melainkan mendengarkan bacaan seorang hamba-NYA yang merdu sedang membaca al-Qur’an dengan jelas.”
(HR Bukhari dan Muslim)

10. BERUSAHA MEMENUHI KAIDAH TAJWIDNYA, MEMAHAMI DAN MENGAMALKANNYA

“Beliau SAW membaca al-Qur’an dengan perlahan, setiap bertemu dengan ayat tasbih beliau SAW bertasbih, setiap bertemu dengan ayat perlindungan beliau SAW berta’awwudz dan setiap bertemu dengan ayat pertanyaan, maka beliau SAW menjawabnya.”
(HR Muslim)

Tafsir Ibnu Abbas ra atas QS Al-Furqaan (25:30)
Wallahu a’lam.

Nabiel Fuad Al-Musawa

Sumber : Al-Ikhwan

Monday, November 13, 2006

Manhaj Tadabbur

sepenggal tasuiyah dari Imam Syahid..
"Ketika orang-orang beriman membaca kitab Allah swt. adalah sebagaimana yang difirmankanNya,
"Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan, iaitu Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang; gemetar kerananya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang pada waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu ia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya."
(QS Az-Zumar 39:23)

Semoga kita termasuk di dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk-Nya, amin

Selamat mentadabburi Al Qur'an.. :)

^_^

**


Manhaj Tadabbur (Metode Merenungkan Kandungan) Al-Qur’an yang Benar Sesuai Pemahaman Salafus-Shalih

MUQADDIMMAH

QS 47/24: Hati manusia tertutup jika tidak merenungkan kandungan/menganalisa al-Qur’an
QS 37/29: Al-Qur’an diturunkan agar dianalisa isinya, dan agar para ulil-albab selalu ingat.
QS 41/53: Allah akan membuktikan bahwa semua ucapan-NYA benar secara ilmiyyah pada suatu waktu.

Semua ayat yang ada dalam al-Qur’an adalah
hidayah yang terbaik,
kata-kata yang paling mulia,
kisah yang paling tinggi,
teman yang paling jujur
dan da’i yang paling alim dan sempurna.

Oleh karena itu Ibnu Mas’ud ra berkata:
“Jika kalian mendengar Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman ., maka dengarkanlah dengan sebaik-baiknya, karena perintahnya adalah sebaik-baik perbuatan yang harus kalian lakukan, dan larangannya adalah seburuk-buruk bahaya bagi kalian semua!”

URGENSI TADABBUR DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

Kenyataan ummat Islam saat ini banyak yang menjauhi al-Qur’an akibat mengikuti kebiasaan-kebiasaan ummat non muslim, sebagaimana hadits:
“Dari Abu Hurairah ra: Bersabda Nabi SAW: Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai seandainya mereka masuk kedalam lubang Biawak, maka kalianpun akan mengikuti juga.”
(HR Ibnu Majah, hadits no. 3994)

Wujud-wujud Penyakit Ummat Terdahulu:

1. UMMI (tidak dapat membaca dan memahami kitab mereka)

Penyakit inilah yang pernah menimpa para ahli Kitab (QS 2:78).
- Kata Ibnu Katsir: Arti ayat ini adalah tidak mengetahui tentang Kitab dan isinya.
- Kata Mujahid ra: Yaitu orang ahli Kitab yang sama sekali buta dan tidak memahami Kitab mereka dan mereka bicara tentang Kitab mereka hanya sangkaan dan kira-kira tanpa didasari hukum-hukum ALLAH. Lalu mereka katakan bahwa pikiran-pikiran mereka itu dari al-Kitab.
- Kata Ibnu Abbas ra: Mereka yang membaca tanpa mengetahui apa arti yang dibaca.

2. BERIMAN SECARA PARSIAL (QS 2:84-86)

- Sebagaimana orang Yahudi yang beriman pada sebagian isi al-Kitab tetapi menolak sebagian yang lain (QS 2:85), atau juga orang Nasrani (QS 15:90-91).
- Kata Ibnu Katsir: Dalam ayat ini ALLAH menolak orang Yahudi Madinah yang saling membunuh diantara kelompok mereka jika terjadi peperangan.
- Kata Ibnu Abbas ra (tentang QS 15:90-91): Mereka adalah orang Yahudi ahli Kitab yang hanya mau beriman pada sebagian saja isi Kitab tetapi menolak yang lain.

3. BANGGA PADA SELAIN MANHAJ ALLAH

a) Pada warisan-warisan Jahiliyyah (QS 2:170-171).
- Berkata Ibnu Katsir: maksudnya adalah sifat-sifat orang-orang kafir musyrikin Mekkah.
- Kata Ibnu Abbas ra: Ayat ini turun tentang sebagian orang Yahudi yang saat diajak beriman oleh Nabi SAW, mereka menjawab: Kami hanya akan mengikuti nenek-nenek moyang kami.
b) Pada manhaj/sistem buatan manusia (QS 17:73-77)
- Seperti dimasa Fir’aun dan para Thaghut dimasa kini.

4. TIDAK MENGETAHUI KITAB DAN MENYAMAKANNYA DENGAN CERITA-CERITA KUNO (QS 25; 4-6)

- Sebagaimana yang dilakukan oleh An-Nadhar bin Harits saat menyanggah dakwah Nabi SAW (QS 8:31).

5. MENINGGALKAN AL-QUR’AN (QS 25:30-31 dan 41:26-28)

- Orang-orang musyrik tidak mengacuhkan bacaan al-Qur’an dan jika mereka mendengarnya maka mereka bermain-main dan berbicara, lebih tertarik pada lagu-lagu, sya’ir-sya’ir dan pendapat-pendapat, sehingga mereka tidak mendengarnya. (QS 41:26-28)

6. CINTA DUNIA DAN SENANG DI DALAMNYA (75:17-21 dan 14:1- )

7. SALAH MENERAPKANNYA

- Misalnya banyak dibaca untuk mendapat uang, untuk simbol-simbol seremonial semata, untuk orang yang sudah mati saja, dan sebagainya. (h)

FAKTOR-FAKTOR YANG MENUNJANG KEBERHASILAN TADABBUR

1. BAHASA ARAB:
Karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab (QS 12/2), al-Hadits pun demikian pula, begitupun kitab Tafsir dan berbagai ilmu syari’ah.

2. NAHWU dan SHARAF:
Karena makna kata berubah dan berbeda tergantung pada i’rab-nya, maka seorang da’i harus memahaminya. E.g: Innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihil ulamaa artinya sangat berbeda dengan Innamaa yakhsyallahu min ‘ibaadihil ulamaa.

3. BALAGHAH:
Ma’aaniy, Bayaan, Badii’ Sebab dengan inilah kita bisa merasakan mu’jizat Qur’an, semakin diperdalam maka semakin dahsyat I’jaz-nya.

4. QIRA’AAT:
Tentang bagaimana melafazhkan al-Qur’an, dan sebagian qira’aat menafsirkan qira’aat yang lainnya. Yang mutawattir ada 7 riwayat, yang lain menyebutkan 14 riwayat.

5. USHUL FIQH:
Untuk mengenal bagaimana meng-istinbath dalil dan hukum-hukumnya. E.g: al-Ibrotu bi’umuumil lafzhi, laa bikhushuushi as-sabaab.

6. ASBAB NUZUL:
Sehingga kita dapat melihat secara jelas konteks ayat tersebut. Imam Ibnu Taimiyyah menyatakan: Fahmus sabab yuuritsu fahmil musabbab. E.g: Bagaimana shalat sunnah dikendaraan: Fa aina tuwalluu fatsamma wajhullah.

7. NASIKH - MANSUKH:
Yang menolak Nasikh & Mansukh hanyalah Yahudi, Syi’ah dan Mu’tazilah (As-Suyuthi). Yahudi menolak karena takut agamanya dinasakh oleh Islam, padahal mereka mengakui bahwa agama mereka menasakh syari’at Adam as (boleh nikah dengan saudara sekandung). E.g: QL = wajib (qum) tetapi dinasakh dengan ayat setelahnya (faqra`uu maa tayassara).

METODOLOGI TADABBUR YANG BENAR

1. AL-QUR’AN dengan AL-QUR’AN:
Karena al-Qur’an saling membenarkan ayat-ayatnya, dan saling menafsirkan satu sama lain. Hal-hal yang disebutkan secara umum dalam suatu ayat, maka rinciannya ada dalam ayat yang lain, sesuatu yang muthlaq dalam sebuah ayat menjadi muqayyad dalam ayat yang lain, ayat yang umum dikhususkan dalam ayat lainnya. E.g: Nabi SAW menafsirkan ayat 6/82 dengan 31/13.

2. AL-QUR’AN dengan AS-SUNNAH:
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Jika tidak kamu temui tafsirnya dalam ayat yang lain, maka tafsirkan dengan sunnah, karena ia merupakan syarah dari al-Qur’an dan penjelasannya (taudhiihah)”. E.g: 10/26 ditafsirkan oleh Nabi SAW az-Ziyaadah yaitu melihat Allah SWT.

3. Memperhatikan pendapat SHAHABAT R.A.:
Jika shahih dari mereka maka hendaklah kita ambil, karena al-Qur’an turun ditengah-tengah mereka, mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sebab-sebab turunnya, bahasa Arab merekapun lebih asli, kefahaman merekapun lebih bersih, keimanan merekapun lebih sempurna, kejujuran merekapun lebih teruji.
Dengarlah perkataan Ibnu Mas’ud ra tentang kefahamannya atas al-Qur’an: “Demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya tidak satupun ayat yang turun kecuali aku mengetahui tentang apa ayat itu turun dan kapan ayat itu turun apakah dimusim panas atau dimusim dingin, pada pagi hari atau sore hari, dan jika aku mengetahui ada orang yang lebih tahu dariku tentang suatu ayat maka akan kupacu kudaku kepadanya (untuk belajar).”

4. Merujuk kepada BAHASA ARAB FUSHAH:
Asy-Syu’araa’/195, maka wajib bagi kita (dengan tidak melupakan item diatas) merujuk artinya kepada bahasa Arab, kesesuaian dengan qawaa’id-nya, dan sesuai dengan balaghah dan I’jaz-nya.

Sungguh tak akan kembali jaya ummat ini, kecuali jika mereka kembali mengikuti salafus-sholihin yang pernah berjaya dahulunya .
In uriidu illal Ishlaaha mas ta’tho’tu .

Nabiel Fuad Al-Musawa

MARAJI’:
1. Mabaahits fii uluumil Qur’an, DR. Manna’ Khalil al-Qaththan.
2. Mauqiiful Muslim min Mashdaaril Awwal, DR. Yusuf al-Qardhawi.
3. Fal natazawwad minal Qur’aan, Sayyid Quthb.
4. Nazharaat fii Kitaabillah, Hassan al-Banna.
5. Min Baghiyyah al-Quraan fii Wazhaaif Ramadhaan, Ibnu Rajab al-Hanbali.
6. Manhaaj Tafsiir al-Qur’aan (Taujih Internal).

Sumber : Al-Ikhwan

Friday, November 10, 2006

Tingkatan Membaca Al Quran

Ada suatu kisah orang shalih, yang ketika beliau harus diamputasi kakinya, saat itu tidak ada obat bius, tahu engga apa kemudian yang dilakukan?
Beliau lalu membaca Al Quran.. dan meminta dokter mengamputasi kakinya ketika ia memberi isyarat, di mana saat itulah, beliau merasakan kenikmatan membaca Al Quran, sehingga sampai-sampai rasa sakit saat dipotong kakinya tidak dirasakannya, saking nikmatnya membaca Al Quran. subhanallah..

Dan masih banyak lagi kisah-kisah luar biasa para sahabat nabi yang merasakan kenikmatan membaca Al Quran yang tiada tara, subhanallah..

Semoga ini memotivasi kita untuk memperbaiki kualitas kita dalam membaca Al Quran, yuuk yak yuuk.. :)

^_^

**

Ada tingkatan yang disebut oleh Al Ghazali sebagai peningkatan diri. Maksudnya adalah meningkatkan diri hingga mendengar kalam Allah dari Allah SWT, bukan dari dirinya.

Tingkatan membaca itu ada tiga, yaitu:

Tingkatan yang paling rendah adalah apabila seorang hamba berusaha membaca Al Quran seakan-akan ia berada di hadapan Allah SWT.
Dia merasakan Allah memperhatikannya dan mendengarkan bacaannya. Dalam kondisi ini, kewajibannya adalah berdoa, memohon, meratap, dan menghiba.

Tingkat yang kedua adalah menyaksikan dengan hatinya seakan Allah SWT melihatnya, berdialog kepadanya dengan kasih sayang-Nya,dan memberikan kepadanya nikmat dan kebaikan-Nya.
Dalam kondisi seperti ini, kewajibannya adalah merasa malu, memuliakan Allah SWT, mendengarkan, dan memahami firman-Nya.

Ketiga, ia melihat kalam Allah dan dalam kalimat-kalimat sifat, serta tidak melihat kepada dirinya, juga tidak kepada bacaannya, dan tidak kepada nikmat yang diberikan kepadanya.
Sebab, seluruh perhatiannya tercurahkan kepada al-Mutakallim Allah SWT, melepas pikirannya, dan seakan ia tenggelam dalam penyaksian Mutakallim Allah SWT dari menyaksikan yang lainnya.

Dalam tingkatan ini, kenikmatan dan kelezatan munajat sangat besar. Oleh karena itu, sebagian ahli hikmah berkata,
”Aku pernah membaca Al Quran dan aku tidak mendapatkan kenikmatan,
hingga aku membacanya seakan-akan aku mendengarkannya dari Rasulullah SAW saat sedang membacanya kepada sahabat-sahabat beliau,
kemudian naik ke tingkat yang lebih tinggi, dan aku membacanya seakan aku mendengar Jibril membacakannya kepada Rasulullah SAW,
selanjutnya, aku meningkat ke tingkatan yang lebih tinggi dan saat itu aku mendengarnya dari al-Mutakallim, Allah SWT, dan saat aku menemukan kelezatan dan kenikmatan, maka aku tidak sadar lagi.”

Ini adalah tingkat kaum muqarrabin, yang sebelumnya adalah tingkatan ashabul yamin, sedangkan yang tidak mencapai ini adalah tingkatan orang-orang yang lalai.

Ustman dan Hudzaifah r.a. berkata,
”Jika hati telah bersih dan suci, niscaya ia tidak akan kenyang merasa untuk terus membaca Al Quran.”

Sumber:
Berinteraksi dengan Al Qur’an
Dr. Yusuf Al Qardhawi

Thursday, November 09, 2006

Berdialog dengan Al Quran

Teringat sebuah tausiyah dari ust Abdul Azis Abdur Rauf:
"Membaca Al Quran secara haqqo tilawah adalah membaca Al Quran yang melibatkan 3 unsur, yaitu lisan yang fasih dalam melafalkan makhrojnya, kedua, akal, yang membuatnya mengerti ilmu tajwid yang benar, dan ketiga, hati, yang membuatnya merasakan dengan siapa sesungguhnya dia sedang berdialog."

Selamat menikmati dialog dengan kalam-Nya yang mulia.. :)

^_^

**

Di antara tuntutan tadabur Al Quran adalah berdialog dan berinteraksi dengan Al Quran dengan akal dan hatinya.

Caranya adalah dengan mencurahkan hatinya untuk mentafakuri makna yang ia baca, mengetahui makna setiap ayat, merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangannya, serta menerimanya dengan sepenuh hati.

Apabila ketika ia membaca Al Quran tersebut ia menyadari kekurangannya pada masa lalu,
Maka ia segera bertobat dan memohon ampun kepada Allh SWT.

Jika ia membaca ayat rahmat,
Maka ia pun merasakan gembira dan memohon kebaikan kepada Allah SWT.

Jika ia membaca ayat azab,
Maka ia berdoa untuk dihindari dari azab dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Ketika membaca ayat yang menyucikan Allah SWT,
Maka ia segera menyucikan dan memuji Allah SWT

Sedangkan jika ia melewati ayat doa,
Maka ia segera berdoa dan memohon dengan sangat kepada Allah SWT

Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata,
”Aku shalat bersama Nabi saw. Pada suatu malam , kemudian beliau membaca surat Al Baqarah, An Nisa, dan Al Imran.
Beliau membacanya dengan perlahan-lahan.
Jika ia membca ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih kepada Allah SWT.
Jika membaca ayat yang berisi doa, beliau segera berdoa.
Dan jika membaca ayat memohon perlindungan, maka beliau segera memohon perlindungan kepada Allah SWT.”

“..Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”
(QS Al Muzzammil 73:4)

“dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
(QS Al Isra 17:106)

Ia harus memusatkan hatinya untuk memikirkan makna apa yang ia baca dengan lidahnya, mengetahui makna setiap ayat, dan tidak melanjutkan ayat selanjutnya hingga ia mengetahui makna ayat itu.

Jika ia melewati ayat rahmat,
Maka hendaknya ia berhenti dan bergembira dengan apa yang dijanjikan oleh Allah SWT itu dan berdoa kepada Allah SWT agar dimasukkan ke dalam surga.

Sedangkan jika ia membaca ayat azab,
Maka hendaknya ia berhenti untuk merenungkan maknanya.
Jika ia termasuk golongan kafir, maka hendaknya ia segera beriman, dan mengucapkan, “Aku beriman kepada Allah SWT semata, mengetahui tempat ancaman, dan memohon kepada Allah SWT agar dijaga dari neraka.”

Jika melewati ayat yang di dalamnya terdapat panggilan bagi orang-orang yang beriman seperti.”Hai orang-orang yang beriman”,
Hendaknya ia berhenti dahulu di situ
-Ada sebagian orang yang mengucapkan, ”Aku penuhi panggilan-Mu wahai Rabbku”-
Dan memperhatikan redaksi selanjutnya dari apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang, dan ia meyakini akan menjalankannya.
Jika hal itu adalah sesuatu yang pernah ia lalaikan di masa lalu, maka hendaknya ia segera memohon ampunan atas perilakunya pada waktu itu, dan bertobat kepada Allah SWT atas kekurangannya itu.

Allah SWT berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya..”
(QS At-Tahrim 66:8)

Jika ia membaca ayat ini, hendaknya ia mengingkari perbuatan-perbuatannya di dalam dirinya serta dosa-dosanya dengan orang lain, seperti kedzaliman, ghibah (menggunjing orang lain), dan yang lainnya.
Dan, ia segera melunasi kedzalimannya itu dan memohon ampunan atas amal perbuatan yang tidak lengkap ia kerjakan.
Kemudian, ia berniat untuk menunaikannya, dan memohon untuk dibebaskan dari kedzalimannyan kepada orang yang ia dzalimi jika ia masih ada bersamanya, atau menulis surat meminta maaf jika ia berada di tempat lain, serta mengembalikan apa yang pernah ia ambil dengan dzalim dari orang lain.

Dan ia bertekad untuk menunaikan itu semua pada saat ia membaca Al Quran sehingga Allah SWT mengetahui bahwa ia telah mendengar dan menaati firman-Nya

Jika ia melewati suatu ayat yang ia tidak tahu maknanya,
Maka ia segera mengingat atau mencatatnya untuk kemudian menanyakan kepada orang yang mengetahui maknanya, sehingga ia menjadi penuntut ilmu Al Quran dan menjalankan isinya.

Jika suatu ayat diperselisihkan oleh ulama tentang pengertiannya,
Maka hendaknya ia mengambil pemahaman yang paling ringan.
Dan jika ia berhati-hati dan memilih pendapat yang paling kuat, maka itu lebih baik dan lebih selamat bagi agamanya.

Jika ayat yang ia baca adalah ayat-ayat yang di dalamnya Allah SWT menceritakan berita umat-umat yang telah lalu,
Maka perhatikanlah hal itu, dan lihatlah apa yang diputuskan bagi umat itu, selanjutnya kembalilah bersyukur kepada Allah SWT atas semua itu.

Jika yang ia baca adalah ayat-ayat perintah atau larangan,
Maka niatkanlah untuk menjalankan perintah itu dan mengajak orang lain untuk menjalankannya, serta menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya.

Jika yang ia baca ancaman yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi kaum mukminin,
Maka hendaknya ia memperhatikan hatinya.
Jika ia cenderung untuk mengharap maka sambunglah dengan perasaan takut, dan jika ia cenderung untuk takut maka sambunglah dengan harapan, sehingga rasa takut dan harapannya seimbang.

Itulah kesempurnaan iman.

Jika ayat-ayat yang ia baca adalah dari kelompok ayat mutasyabihat yang hanya Allah SWT mengetahui takwilnya,
Maka terimalah dengan keimanan, seperti diperintahkan oleh Allah SWT dalam QS Al-Imran 3:7

Jika ia berisi nasihat, maka ambillah nasihat itu.

Dan jika ia telah melakukan itu, maka ia telah membaca Al Quran secara tartil dan sempurna.

Jika manusia telah melakukan hal ini, maka ia telah membaca Al Quran dengan tartil secara sempurna.

Sumber:
Berinteraksi dengan Al Qur’an
Dr. Yusuf Al Qardhawi

Wednesday, November 08, 2006

Syafaat Al Quran

teringat sebuah doa yang diajarkan Rasulullah..

"ya Allah, jadikanlah Al Quran sebagai hujjah yang akan menolongku"

afwan..
versi lengkapnya menyusul yaa..

^_^

**

SYAFAAT AL QURAN

Di dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda yang bermaksud:
"Pada hari Kiamat nanti, di hadapan Allah swt tidak akan ada syafaat yang mempunyai taraf yang lebih tinggi daripada Al-Quran, bukan Nabi,bukan malaikat dan sebagainya".

Melalui hadis di atas kita dapat mengetahui bahawa Al-Quran adalah pemberi syafaat yang mana
syafaatnya akan diterima Allah.

Terdapat satu riwayat menyatakan bahawa Apabila seseorang itu meninggal dunia dan keluarganya sibuk melakukan upacara pengkebumian, seorang yang kacak akan berdiri di bahagian kepalanya.

Apabila mayat itu dikafankan, orang itu akan datang mendiami antara dadanya dan kain kafan itu. Bila selesai dikebumikan, orang ramai termasuklah ahli-ahli keluarga dan kekasih kita akan pulang ke rumah dan datanglah dua malaikat;Munkar dan Nakir cuba untuk memisahkan orang yang kacak itu supaya mereka dapat membuat pertanyaan mengenai iman orang yang meninggal dunia itu tanpa sebarang gangguan.Tetapi orang yang kacak itu akan berkata :

"Dia adalah kawanku. Aku tidak akan meninggalkannya berseorangan walau dalam keadaan apa sekalipun. Jalankanlah tugas kamu tetapi aku tidak akan meninggalkannya sehingga aku membawanya masuk ke syurga!"

Selepas itu dia berpaling ke arah mayat sahabatnya dan berkata:
"Akulah Al-Quran yang mana engkau telah membacanya kadang kala dengan suara perlahan dan kadang kala dengan suara yang kuat."
"Janganlah engkau bimbang. Selepas pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan berasa dukacita lagi"
Bila pertanyaan selesai, orang yang kacak itu akan mengadakan untuknya satu hamparan sutera yang penuh dengan kasturi dari malaikat - malaikat dari syurga"

Alangkah indahnya dan bahagianya sekiranya orang itu adalah kita. Kita tahu tentang tingginya syafaat Al-Quran tetapi dengan mengetahuinya sahaja tanpa berusaha untuk mendekati dan merebut syafaat itu kita adalah orang-orang yang rugi.

Cuba kita renungkan sejenak diri kita sendiri.

Ajal dan maut adalah ketentuan Allah. Bila ia telah datang kita tidak akan mampu memperlambatkan atau mempercepatkannya walaupun untuk tempoh sesaat.
Dan apabila berada di alam kubur siapakah lagi ! yang akan menemani kita jauh sekali memberi bantuan kecuali amalan-amalan kita sewaktu di dunia.

Allah telah menjanjikan Al-Quran sebagai pemberi syafaat terulung dan janji Allah itu adalah benar.

wallahua'lam

Tuesday, October 31, 2006

Akrab Dengan Al Quran

Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah swt. Isinya
merupakan penyempurna dan pengoreksi semua isi kitab suci terdahulu. Dengan
diturunkannya ayat terakhir dari Al-Qur’an, berarti terhentilah wahyu dari
langit dan berakhirlah pengutusan para rusul ke dunia. Nabi Muhammad saw.
sebagai penerima wahyu terakhir tersebut adalah pemungkas para Rasul (QS.
Al-Ahzab: 40)

Al-Qur’an merupakan undang-undang langit terakhir yang berfungsi mengubah
undang-undang samawi sebelumnya. Apa yang masih dianggap relevan dengan
tuntutan zaman masih tersirat dan atau tersurat di dalamnya, karena Al-
Qur’an adalah puncak dari perundang-undangan Ilahi dan pemungkas wahyu
samawi. Isi kitab samawi sebelumnya yang telah diubah oleh tangan-tangan
kotor manusia, dikoreksi dan diluruskan. Undang-udang pokok yang dibutuhkan
umat manusia sampai akhir zaman untuk mengatur kehidupannya telah lengkap
tercantum dalam Al-Qur’an.(Al Maidah 3)

Al-Qur’an diturunkan berfungsi membenarkan dan meluruskan apa yang ada pada
kitab suci sebelumnya serta menyempurnakan risalah para Nabi terdahulu,
untuk dijadikan sebagai risalah universal yang mencakup semua kebutuhan
manusia, kapan dan dimana saja mereka berada. (QS. Al-Ma’idah: 48)

1. Kesempurnaan dan Kelengkapan Isi Al-Qur’an

Dalam surat Al-Ma’idah ayat 3 Allah menyatakan,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapkan
nikmatKu kepadamu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

Ayat ini menyuratkan dua hal pokok. Pertama, Allah telah menyempurnakan isi
Al-Qur’an. Dalam artian dari aspek kualitas, ajaran Al-Qur’an amat sempurna
dan tidak terdapat kontradiksi sama sekali. Kedua, Allah telah mencukupkan
atau melengkapkan nikmat-Nya kepada Muhammad saw. Diantara nikmat yang
paling agung adalah nikmat Islam. Berarti Allah telah melengkapkan ajaran
Islam.

Kelengkapan ajaran Al-Qur’an ini ditinjau dari segi kuantitas ajarannya.
Menuntut ayat tersebut, ajaran Al-Qur’an telah mencakup semua aspek hukum
dan aspek kehidupan manusia. Sebagaimana yang ditegaskan Allah, “Tidak satu
pun yang Kami abaikan dalam Al-Qur’an ini” (QS. Al-An’am: 38).

Para ahli tafsir mengatakan maksud ayat ini, bahwa Allah tidak meninggalkan
sedikit pun masalah-masalah agama dalam Al Quran. Allah telah menjelaskan
semuanya, baik dengan terperinci maupun secara global yang diterangkan oleh
Rasulullah saw. atau ijma’ dan qiyas. (Al Jami’ Li ahkaamil Quran, Al
Qurthubi, juz VI hal 420)

Dalam ayat lain ditegaskan, ”Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an
untuk menerangkan segala sesuatu”. (Al Jami’ Li ahkaamil Quran,Al Qurthubi,
juz X hal 164)

Menurut ayat-ayat tersebut, segala sesuatu sudah ada dan diatur oleh Allah
swt. dalam Al-Qur’an. Bagi orang yang mengikuti peraturan-peraturan yang
sudah ada dalam Al-Qur’an, akan sempurna merasakan nikmat Allah dalam
penghidupan dan kehidupan di atas dunia ini.

Kalau kita bawa maksud Al-Qur’an ini kepada suatu konotasi yang lebih
sempit, yaitu pedoman hidup dan hukum, maka Al-Qur’an merupakan pedoman
hidup dan aturan hukum yang sempurna dan lengkap. Tidak ada lagi aturan atau
hukum pokok yang dibutuhkan manusia yang tertinggal. Apabila manusia
berpedoman pada Al-Qur’an, mengikuti dan menjalankan peraturan-peraturan
hukum yang ada di dalamnya, maka akan sempurnalah nikmat kehidupan umat
manusi di dunia ini. (Al Jami’ Li Ahkaamil Quran, Al Qurthubi, juz VI hal
420)

2. Manusia Membutuhkan Petunjuk Al-Qur’an

Totalitas dan kesempurnaan ajaran yang dimiliki Al-Qur’an menuntut
peganutnya agar komitmen terhadap Islam secara total. Seorang muslim tidak
boleh mengambil satu aspek saja dari ajarannya, akan tetapi ia harus
mengambil semua aspek dari ajaran-ajaran Islam secara utuh. Al-Qur’an
mencela Bani Israil yang menerima sebagian ayat dan menolak sebagian yang
lainnya sesuai dengan kemauan dan hawa nafsu mereka. (QS. Al-Baqarah: 85).

Untuk menghadapi era globalisasi sekarang ini, manusia amat membutuhkan
petunjuk Al-Qur’an, karena kebutuhannya melebihi kebutuhan umat manusia
terdahulu. Ada beberapa alasan yang menyebabkan kita amat membutuhkan
petunjuk Al-Qur’an.

Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah saw. untuk membebaskan ummat manusia
dari kegelapan menuju cahaya hidup yang terang benderang (QS. Ibrahim: 1).
Dan sebagai pedoman hidup penuntun ummat manusia ke jalan kehidupan yang
lurus (QS. Al-Baqarah: 183 dan QS. Al-Isra’: 9). Mengikuti petunjuk
Al-Qur'an adalah jaminan kebahagiaan pribadi dan masyarakat, kebahagiaan
dunia dan akhirat, karena pembuat petunjuk itu adalah Pencipta dan Yang Maha
Tahu tentang ciptan-Nya.

Pedoman dan petunujuk hidup itu berlaku bagi seluruh ummat manusia, baik
bagi orang Arab manupun orang non Arab, baik orang pandai ataupun orang
biasa, baik kelas atas, menengah, atau pun kelas bawah. Oleh karena itu,
Allah swt. Yang Maha bijaksana menurunkan Al-Qur’an ini dengan uslub yang
mudah, yang dapat difahami oleh ummat manusia. Bahkan, Al-Qur’an sendiri
mengulang-ulang pernyataan ini empat kali dalam satu surat Al-Qamar: 17, 22,
32 dan 40 sebagai berikut:

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah
orang yang mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar : 17, 22, 32 dan 40)

Para sahabat Nabi dengan berbagai macam jenis kemampuan penalaran mereka,
dengan mudah memahami, mencerna, dan mengamalkan Aquran, karena mereka siap
mendengar, menerima, dan mentaatinya. Namun, Rasulullah saw. pernah mengadu
kepada Allah swt. tentang sikap kaumnya terhadap Al-Qur'an ini, sebagaimana
direkam oleh Al-Qur'an sendiri:

"Dan Rasul berkata (mengadu): Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan
Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan" (QS. Al-Furqaan: 30).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa tidak beriman dan tidak membenarkan Al-Qur’an
termasuk "mahjura". Tidak mentadabburi (menelaah) dan tidak memahaminya
adalah termasuk "mahjura". Tidak mengamalkannya dan tidak melaksanakan
perintah dan menjauhi larangannya adalah termasuk "mahjuro".

Pengaduan itu terhadap kaumnya yang memusuhi Aquran (orang-orang kafir),
bagaimana kalau terjadi pada ummatnya sendiri!!!

3. Berinteraksi dengan Al-Quran dan Mentadabburinya

Ada empat macam cara interaksi dengan Al-Qur'an :
1. Tilawah (membacanya) .
2. Tadabbur (menelaahnya) .
3. Hifzh (menghafalnya) .
4. Al-amal bihi (mengamalkannya) .

Tadabbur (penelaahan) Al-Qur’an diperintahkan oleh Allah swt. dan salah satu
cara berinteraksi (ta'amul) dengan Al-Qur'an. Allah swt. berfirman, “Ini
adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai
fikiran mendapatkan pelajaran" (QS. Shaad: 29). "Maka apakah mereka tidak
mentadabburi Al-Qur'an ataukah hati mereka terkuci?" (QS. Muhammad: 24 ).

Tadabbur adalah salah satu cara untuk memahami Al-Qur’an. Kitab-kitab Tafsir
yang kita kenal dan kita baca sekarang adalah hasil usaha yang optimal dari
para ulama dalam mentadabburi dan memahami Aquran.

Tadabbur menurut bahasa berasal dari kata ÏÈÜÜÑ yang berarti menghadap,
kebalikan membelakangi. Tadabbur menurut ahli bahasa Arab adalah ÇáÜÊÜÝÜßøÜÑ
memikirkan. Maka, tadabbur bisa berarti memikirkan akibat dari sesuatu atau
memikirkan maksud akhir dari sesuatu. Sedangkan, tadabbur menurut istilah
adalah "penelaahan universal yang bisa mengantarkan kepada pemahaman optimal
dari maksud suatu perkataan ".

Namun, tadabbur itu sendiri terikat dengan mengamalkannya, karena para
Salafushshalih mengartikan tadabbur dan tilawah yang sungguh-sungguh (QS.
Al-Baqarah: 121) dengan mengamalkannya. Jadi, pengertian tadabbur adalah,
"Usaha memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang dibaca atau didengar dengan
disertai kekhusyukan hati dan anggota badan serta dibuktikan dengan
mengamalkannya" .

Untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an dan melakukan tadabur yang optimal
membutuhkan kiat-kiat sebagai berikut:

1. Memperhatikan Adab atau Sopan-santun dalam Tilawah.

Supaya tilawah Al-Qur'an memberikan manfaat dan buah serta menghasilkan
dampak positif dan istiqamah, perlu diperhatikan adab dan sopan santun
ketika membaca Al-Qur'an antara lain:

a. ÍÓÜä ÇáäíÜÉ (motivasi yang baik), keihklasan, totalitas hanya untuk
mendapatkan ridha Allah swt.
b. ÇáÇÓÊÚÇÐÉ æÇáÈÓÜãáÉ (dimulai dengan Isti"adzah dan Basmalah) karena
hal tersebut diperintahkan oleh Allah (QS. An-Nahl: 98 ).
c. ÇáØåÜÇÑÉ (kesucian) hati dan jasad, suci lahir dan batin. Bahkan
dianjurkan membaca Al-qur'an itu dalam keadaan suci dari hadats besar dan
kecil.
d. ÊÜÝÜÑíÛ ÇáäÝÜÓ Úä ÔÜæÇÛáÜåÇ (tidak disibukan dengan selain
Al-Qur'an).
e. ÍÕÜÑ ÇáÝÜßÜÑ ãÚ ÇáÞÜÑÁÇä (konsentrasi penuh dengan Al-Qur'an)
f. ÇÎÊÜíÇÑ ÇáÃæÞÜÇÊ æÇáÃãÜÇßä ÇáãÜäÜÇÓÈÜÉ (memilih waktu dan tempat
yang cocok).

2. Memperhatikan cara-cara Talaqqi ( menerima pelajaran ).

a. ÇáÊÜáÞí ÈÇáÞáÈ ÇáÎÇÔÜÚ (menerimanya dengan hati yang khusyuk).
b. ÇáÊÜáÞí ÈÇáÜÊÜÚÙíÜã (menerimanya dengan rasa takzim) seperti halnya
seorang prajurit mendapatkan perintah dari komandannya atau seorang hamba
sahaya mendapat perintah dari majikannya.
c. ÇáÊÜáÜÞí ááÊÜäÜÝíÜÐ (menerimanya untuk dilaksanakan) .

3. Memperhatikan Tujuan Pokok dari Al-Qur’an.

Ketika mentadabburi Al-Qur'an, hendaknya terhujam dalam benak kita tujuan
pokok dan essensi diturunkannya Al-qur'an, yang antara lain:
a. Petunjuk jalan menuju kepada Allah swt. bagi setiap individu ataupun
bagi seluruh ummat manusia.
b. Merealisasikan pembentukan pribadi muslim yang sempurna dan yang
seimbang.
c. Merealisasikan masyarakat Islam berwawasan Al-Qur’an.
d. Membimbing ummat dalam pergumulannya dengan situasi jahili yang
berada disekelilingnya.

4. Mengikuti Jejak Langkah Para Sahabat dalam Berinteraksi dengan
Al-Qur’an.

a. Pandangan yang universal terhadap Al-Qur’an.
b. Melepaskan segala bentuk prasangka sebelum masuk berinteraksi dengan
Al-Qur'an.
c. Penuh keyakinan akan benarnya nash-nash Aquran.
d. Merasakan bahwa ayat yang dibaca atau didengar adalah ditujukan
kepadanya.

5. Berusaha Hidup dalam Ruh Al-Qur'an.

a. Tidak bertele-tele dalam memahaminya.
b. Menjauhkan cerita-cerita Israiliyyat.
c. Melepaskan nash-nash Al-Qur’an dari keterikatan dengan tempat dan
waktu.

6. Dibantu dengan disiplin Ilmu-ilmu lain.

a. Menguasai pokok-pokok ulumul Qur’an.
b. Memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
c. Melepaskan perbeadaan-perbedaa n penafsiran para ulama tafsir dan
kembali kepada makna hakiki dari Al-Qur’an.
d. Diperluas dengan penguasaan Sirah Nabawiyah dan Sejarah kehidupan
para Sahabat.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Ramadhan Telah Berlalu

Setelah bulan Ramadhan berlalu, orang akan terbagi menjadi beberapa bagian, namun secara garis besarnya mereka terbagi dua kelompok:

Kelompok yang pertama:

Orang yang pada bulan Ramadhan tampak sungguh-sungguh dalam ketaatan, sehinggga orang tersebut selalu dalam keadaan sujud, shalat, membaca Al-Quran atau menangis, sehingga bisa-bisa anda lupa akan ahli ibadahnya orang-orang terdahulu (salaf).

Anda akan tertegun melihat kesungguhan dan giatnya dalam beribadah.

Namun itu semua hanya berlalu begitu saja bersama habisnya bulan Ramadhan, dan setelah itu ia kembali lagi bermalas-malasan, kembali mendatangi maksiat seolah-olah ia baru saja dipenjara dengan berbagai macam ketaatan kembalilah ia terjerumus dalam syahwat dan kelalaian.

Kasihan sekali orang-orang seperti ini.

Sesungguhnya kemaksiatan itu adalah sebab dari kehancuran karena dosa adalah ibarat luka-luka, sedang orang yang terlalu banyak lukanya maka ia mendekati kebinasaan.
Banyak sekali kemaksitan-kemaksiatan yang dapat menghalangi seorang hamba untuk mengucap "La ilaha illallah" ketika sakaratul maut. Setelah sebulan penuh ia hidup dengan iman, Al-Quran serta amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, tiba-tiba saja ia ulangi perbuatan-perbuatan maksiatnya di masa lalu.

Mereka itulah hamba-hamba musiman mereka tidak mengenal Allah kecuali hanya pada satu musim saja (yakni Ramadhan), atau hanya ketika di timpa kesusahan, jika musim atau kesusahan itu telah berlalu maka ketaatannyapun ikut berlalu.

Kelompok yang kedua:

Orang yang bersedih ketika berpisah dengan bulan Ramadhan.

Mereka rasakan nikmatnya kasih dan penjagaan Allah, mereka lalui dengan penuh kesabaran, mereka sadari hakekat keadaan dirinya, betapa lemah, betapa hinanya mereka di hadapan Yang Maha Kuasa, mereka berpuasa dengan sebenar-benarnya, mereka shalat dengan sungguh-sungguh.

Perpisahan dengan bulan Ramadhan membuat mereka sedih, bahkan tak jarang di antara mereka yang meneteskan air mata.

Apakah keduanya itu sama?

Segala puji hanya bagi Allah!
Dua golongan ini tidaklah sama, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah; Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaan masing-masing .." (Al-Isra': 84).

Para ahli tafsir mengatakan, makna ayat ini adalah bahwa setiap orang berbuat sesuai dengan keadaan akhlaq yang sudah biasa ia jalani.

Barang siapa berpuasa siang hari di bulan Ramadhan dan shalat di malam harinya,
melakukan kewajiban-kewajibannya,
menahan pandangan-nya,
menjaga anggota badan serta menjaga shalat jum'at dan jama'ah dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan ketaatannya sesuai yang ia mampu
maka bolehlah ia berharap mendapat ridha Allah, kemenangan di Surga dan selamat dari api Neraka.

Orang yang tidak menjadikan ridha Allah sebagai tujuannya maka Allah tidak akan melihatnya.
Jangan seperti orang yang merusak tenunan yang kuat hingga bercerai berai

Hati-hatilah, jangan seperti seorang wanita yang memintal benang (menenun) dari kain tersebut ia bikin sebuah gamis atau baju. Ketika semuanya telah usai dan nampak kelihatan indah, maka tiba-tiba saja ia potong kain tersebut dan ia cerai beraikan, helai-demi helai benang dengan tanpa sebab.

Berhati-hati jualah Anda!

Jangan sampai seperti seorang yang diberi oleh Allah keimanan dan Al-Quran namun ia berpaling dari keduanya, dan ia lepaskan keduanya sebagaimana seekor domba yang dikuliti, akhirnya ia masuk keperngkap syetan sehingga jadi orang yang merugi, orang yang terjerumus di dalam jurang yang dalam, menjadi pengikut hawa nafsunya, Naudzu billah mindzalik.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya:
"Dan bacakanlah kepada mereka berita kepada orang yang telah kamu berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian mereka melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syetan sampai ia tergoda, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan kalau Kami menghendaki sesunguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Tetapi ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannnya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membarrkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).
Demikianlah perumpa-maan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka ceritaklah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (Al-A'raaf: 175-176).

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam pernah ditanya: Amalan apa yang paling di sukai Allah? Beliau menjawab: "Yakni yang terus menerus walaupun sedikit".
Aisyah radhiyallah 'anha ditanya:
Bagaimana Rasulullah mengerjakan sesuatu amalan, apakah ia pernah mengkhusus-kan sesuatu sampai beberapa hari tertentu,
ia menjawab:
"Tidak, namun Beliau mengerjakan secara terus menerus, dan siapapun diantara kalian hendaknya ia jika mampu mengerjakan sebagaimana yang di kerjakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Hadits ini memberikan beberapa pelajaran, antara lain:
§ Hendaknya, seluruh kebajikan kita laksanakan secara keseluruhan tanpa pilih-pilih menurut kemampuan kita dan dikerjakan secara rutin.
§ Tengah-tengah dalam beribadah (sedang-sedang), dan menjauhi segala bentuk berlebihan, agar jiwa selalu bersemangat dan lapang, maka dengan ini akan tercapai segala tujuan ibadah, dan sempurna dari berbagai segi.
§ Supaya rutin dalam beramal, suatu amalan meskipun sedikit jika dilakukan secara terus menerus lebih baik dari pada amalan yang banyak namun terputus.

Dengan demikian amalan yang sedikit namun rutin akan memberi buah dan nilai tambah yang berlipat ganda dari pada amalan banyak yang terputus.

Terus Beribadah Hingga Ajal Menjemput

Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia telah berfirman kepada hamba dan RasulNya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Beribadah kamu kepada Rabb-mu hingga datang kepadamu Al Yaqin". Ya'ni maut. (Al-Hijr: 44).

Maksud ayat ini adalah: Janganlah kamu berhenti dari beribadah sehingga kamu mati. Jadikanlah batas ibadah adalah batas kehidupan. Telah berkata hamba Allah Nabi Isa alaihi salam (dalam Al Quran), artinya:
"Dan Dia telah memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku masih hidup." (Maryam: 31).

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya jika anak adam meninggal maka putus sudah amalnya.." Maka dari sini tiada yang membatasi atau memutuskan amal ibadah kecuali bila telah datang maut.

Jadi meskipun bulan Ramadhan telah berlalu
maka seoarang Mukmin hendaknya jangan berhenti dari menjalankan puasa,
karena masih banyak puasa-puasa yang lain yang di syariatkan dalam waktu setahun
seperti puasa tiga hari dalam tiap bulan, puasa senin kamis, puasa Arofah dan lain-lain.

Demikian juga meskipun qiyam di bulan Ramadhan (tarawih) telah usai
maka seorang mukmin janganlah berhenti dari menjalakan shalat malam.

Maka hendaklah Anda bersemangat untuk tetap teruskan kontinyu dalam beribadah sesuai dengan kemampuan Anda,

dan perlu Anda ketahui beberapa cara untuk tetap berada di atas dinnullah dan ketaatan kepada-Nya:

1. Berdo'a supaya senantiasa tetap diatas agama Allah,
sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam banyak-banyak membaca do'a, dengan sabdaNya:
"Wahai dzat yang membolak-balikkan hati tetapkan-lah hatiku di atas agama-Mu (HR. At-Tirmidzi 4/390).

2. Sabar, firman Allah (Al-Ankabut: 58-59).

3. Menelusuri jejak orang-orang shaleh, firman Allah (Hud: 120).

4. Dzikrullah dan membaca Al-Quran.

5. Mempelajari ilmu syar'i dan meng-amalkannya, firman Allah (An Nahl: 102).

Terakhir,
ketahuilah bahwa termasuk ciptaan Allah adalah Surga,
yang jika anda ingin mendatanginya nampak penuh dengan kesusahan,
dan ciptaan Allah yang lain adalah neraka,
yang jika anda mendatanginya terasa sangat menyenangkan.

Surga itu dihijab dengan hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu,
sedangkan neraka dihijab dengan syahwat dan hal-hal yang menyenangkan.

Maka apakah termasuk orang-orang yang berakal jika seseorang menjual surga dan seisinya dengan kesenangan yang sesaat.
Jikalau Anda berkata:
"Sesungguh-nya meninggalkan syahwat (kesenang-an yang menjerumuskan) itu perkara yang susah dan sulit.”
Saya (pengarang buku) menjawab:
"Sesungguhnya rasa berat itu hanyalah bagi orang-orang yang meninggalkan syahwat bukan karena Allah.
Adapun jika anda meninggalkannya secara sungguh-sungguh dan ikhlas,
maka tidak akan terasa berat atau susah meninggalkan-nya kecuali pada awal permulaan saja,
dan ini untuk menguji apakah benar-benar ingin meninggalkannnya atau hanya-main-main saja.
Jika dalam masa-masa ini mau bersabar maka anda akan mendapati keutamaan dan kenikmatan dari Allah yang begitu membahagiakan,
karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Sebagai perumpamaan dari hal tersebut,
yakni kaum muhajirin yang berhijrah meninggalkan harta mereka, tanah kelahiran mereka, kerabat dan teman,
semata-mata karena Allah
maka akhirnya mengganti dengan rizqi-rizqi luas di dunia dan di surga.

Nabi Ibrahim alaihis salam ketika pergi meninggalkan kaumnya, bapaknya dan apa-apa yang mereka sembah selain Allah,
akhirnya Allah memberikan putra Ishaq alaihis salam dan Yakub alaihis salam serta anak turunan yang shaleh,

Nabi Yusuf alaihis salam juga
manakala ia bisa menahan nafsu dan menjaganya agar tidak tergoda rayuan dari majikannya. Dan ia bersabar di dalam penjara, ia lebih suka kepada penjara tersebut agar menjauhkan diri dari lingkaran kejahatan dan fitnah.

Maka akhirnya Allah mengganti dengan kedudukan yang mulia di muka bumi.
(Sumber; Wa Madza ba'da Ramadhan)

Sumber : Al Sofwah

Sunday, October 29, 2006

Puasa Syawal

Keutamaan Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya
dengan(puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia
berpuasa selama satu tahun ."
(HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi
shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda:
"Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh
bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya)
sebanding dengan(puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa
selama setahun penuh."
( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda:
"Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di
bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. "
(HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: "Salah satu sanad yang befiau
miliki adalah shahih.")

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di
bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap
hasanah(kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah
disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di
antaranya :

1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan
pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib,
berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari
Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan
(dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana
keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di
berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum
muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu
membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya
puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seorang
hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik
setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: "Pahala'amal kebaikan
adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa
mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain,
maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.

Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan
lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda
tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat
mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa
Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya'ldul Fitri yang
merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa
setelah 'Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini.
Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-
dosa.

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba
atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya
adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah
menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok
orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat
pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka
puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun
sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali.

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan
benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai
kembali "(An-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-
amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada
Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan
mulia ini, selama ia masih hidup.

Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat
kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan
fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang
berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat,
jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya untuk bersegera
kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali
melaksanakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya
terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosam dan berat apalagi benci.

Seorang Ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh
dalam ibadahnya pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu
mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar:

"Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar
kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang
beribadah dengan sungguh-sunggguh di sepanjang tahun."

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan
memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat
proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian
dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah
melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan
Syawal.

Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya
hingga maut menjemputnya. Allah Ta'ala berfirman :
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) "
(Al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta
sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri
kepada Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan
sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat,
di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat
pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah
(kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian
pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala
kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam
semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan
sahabatnya.

Saturday, October 21, 2006

Selamat Idul Fitri 1427 H

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar..!!!
Laa ilaaha illallaah..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar.. walillaahil hamdu..



Taqabbalallahu minnaa wa minkum.. Shiyamana wa shiyamakum..
Semoga Allah menerima dari kami dan darimu..
Puasa kami dan puasamu..
Taqobbal ya kariim.. amin




MOHON MAAF LAHIR & BATIN

atas segala khilaf dan salah
baik perkataan maupun perbuatan..
baik yang disengaja ataupun tidak..

Semoga Allah mengampuni kita, menambah ketakwaan kita pada-Nya, dan memudahkan urusan kita semua.. amin


^_^


..jangan lupa kiriman kue lebarannya..
ditunggu loh.. ;p



Wednesday, October 18, 2006

Keagungan Lailatul Qadr

Oleh : KH Abdul Hasib Hasan , Lc
Pimpinan Ma'had Al-Hikmah, Bangka - Jakarta.

Edisi : 192, Oase Iman
Senin, 17 Ramadhan 1422 H / 3 Desember 2001

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada Lailatul Qadr."
(QS al-Qadr:1)


Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan dan dinanti-nantikan orang-orang beriman karena kemuliaan dan keagungan yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah Lailatul Qadr

Apakah Lailatul Qadar itu ?
Seberapa besarkah keagungan dan keutamaannya?
Bilakah malam itu terjadi?
Dan apa yang sebaiknya kita lakukan saat kita merasakan atau berada pada malam tersebut?

Semua ini pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk kita ungkapkan dalam rangka mengapai dan memperoleh Lailatul Qadr. Sekalipun pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah sesuatu yang baru, tapi memiliki bobot tersendiri dan sangat relevan.

Secara harfiyah Lailah berarti malam.
Sedangkan Qadr berarti takaran, ukuran, sesuatu yang bernilai dan sesuatu yang terbatas.

Kemudian para ulama beragam dalam mengartikan dan menafsirkannya.

Ada yang menyebutnya malam kemuliaan, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan kitab suci al-Qur'an yang merupakan sumber kemuliaan manusia.
Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuh kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kamu. Maka apakah kamu tidak memahaminya?"
(QS al-Anbiyaa:10)


Sebagian yang lain mengartikan sebagai malam yang sangat bernilai. Kerena pada malam itu ketaatan manusia akan mendapatkan nilai yang tnggi dan pahala yang besar.
Bila dilihat dari kacamata bisnis keuntungan senilai 3.000.000% (1000 bulan X 30 hari X 10 kebaikan).

Karena itu Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya, bulan Ramadhan telah hadir ditengah-tengah kalian. Didalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan pada malam tersebut, berarti ia telah diharamkan dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang yang diharamkannya melainkan orang-orang yang benar-benar merugi,"
(HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Sebagian yang lain mengatakan malam yang sesak dengan Malaikat, sebab kata Qadr dapat berarti sempit. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah SWT,
" Dan siapa yang dipersempit rezekinyaa…" (QS. Al-Thalaaq : 7)

Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan dan keagungan Lailatul Qadr, baik secara tersurat maupun tersirat. Diantaranya :

~ Lailatul Qadr nilainya lebih baik dari seribu bulan, Artinya ibadah yang kita lakukan pada malam tersebu jauh lebih baik dari beribadah seribu bulan (QS al-Qadr :3)

~ Malam tersebut penuh dengan keberkahan (kebaikan yang melimpah). Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami menurunkan (al-Quran) pada malam yang penuh keberkahan (QS. Al-Dukhaan:3)

~ Malam tersebut penuh dengan ampunan. Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang
menghidupkan Lailatul Qadr (dengan ibadah) semata-mata karena iman dan mengharap
pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu," (HR Bukhari)

~ Malam tersebut adalah malam dimana para malaikat makhluk Allah yang suci turun ke dunia untuk memberikan salam kepada hamba-hamba Allah yang taat beribadah kepada-Nya (QS al-Qadr:5)

Mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadr, para ulama beragam pendapat.

Ibnu Hajar menyebutkan lebih dari 40 pendapat. Namun, bila kita membaca hadits-hadits Nabi SAW, dapat kita simpulkan sebagai berikut :

~ Lailatul Qadr terjadi setiap tahun di bulan suci Ramadhan, terutama pada malam-malam sepuluh hari terakhir ketika Rasulullah saw melakukan I'tikaf,
"Apabila memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah saja menghidupkan malam-malamnya dengan beribadah. Beliau membangunkan istrinya, bersungguh-sungguh dan serius bribadah," (HR Bukhari dan Muslim)

~ Lebih utamanya pada malam-malam ganjil, yaitu 21, 23, 25, 27 , dan 29. Rasulullah saw bersabda, "Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan," (HR Bukhari dan Muslim)

~ Lebih spesifik lagi adalah pada tanggal 27 Ramadhan menurut pendapat mayoritas ulama dan tanggal 21 menurut Imama Syafi'i. Ibnu Abbas pernah meminta sahabat yang lebih tua, lemah dan tidak mampu berdiri berlama-lama untuk bertanya kepada Rasul, kapankah ia bisa mendapatkan Lailatul Qadar? Rauslullah saw menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 (HR Thabrani dan Baihaqi).

~ Malam Jum'at yang jatuh pada tanggal ganjil, juga perlu diperhatikan, karena hari Jum'at adalah Sayyidul Ayyaam (penghulu hari-hari) dan Yaumul 'Ied (Hari raya) pekanan.


Yang paling baik kita lakukan pada Lailatul Qadr adalah beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah.

Diantara ibadah yang dianjurkan adalah :

~ I'tikaf, yaitu berada di masjid. Karena, Rasulullah saw melakukan I'tikaf dan menjadikannya budaya yang tidak pernah beliau tinggalkan.

~ Qiyamul Lail (shalat Malam). Rasulullah saw bersabda,"Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan qiyamul Lail karena iman dan mengharap pahala dari Alalh, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lain," (HR Bukhari)

~ Berdoa dan berdzikir. Aisyah ra berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu apabila aku mengetahui Lailatul Qadr? Apa yang sebaiknya aku ucapkan?" Beliau bersabda, 'Ucapkanlah, Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'anni (Ya Allah, sesunggughnya Engkau adalah pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah daku)," (HR Turmudzi).

Lailatul Qadr dapat kita ketahui dari tanda-tandanya.

Ahli hadits seperti Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,
"Saat terjadi Lailatul Qadr, malam terasa jernih, terang, dan tenang. Cuaca Sejuk. Tidak terasa panas. Tidak terasa dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan terang benderang tanpa tertutup satu awan."

Semoga Allah SWT berkenan memberikan kita kemuliaan malam Qadr tersebut.
Aamiin yaa Mujiibas Saaliliin.

Wednesday, October 04, 2006

I'TIKAF

Makna I'tikaf

Menurut bahasa i'tikaf memiliki arti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan ataupun keburukan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya,
"Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang beri'tikaf (menyembah) berhala mereka."
(QS. al-A'raf :138)

Sedangkan menurut syara' i'tikaf berarti menetapnya seorang muslim didalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala.

Hukum I'tikaf

Para ulama sepakat bahwa iktikaf hukumnya sunnah, sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa melakukannya tiap tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala dan memohon pahala-Nya. Terutama pada hari-hari di bulan Ramadhan dan lebih khusus ketika memasuki sepuluh hari terkahir pada bulan suci itu. Demikian tuntunan yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Yang Wajib Beriktikaf

Sebagaimana dimaklumi bahwa i'tikaf hukumnya adalah sunnah, kecuali jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk menunaikan nadzar tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan imam al-Bukhari dan Muslim.

Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan i'tikaf semenjak beliau tinggal di Madinah hingga akhir hayat.

Tempat I'tikaf

I'tikaf tempatnya di setiap masjid yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjama'ah kaum laki-laki, firman Allah Ta'ala, artinya,
"Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam,(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid."
(QS. al- Baqarah:187)


Orang yang beri'tikaf pada hari Jum'at disunnahkan untuk beri'tikaf di masjid yang digunakan untuk shalat Jum'at. Tetapi jika ia beri'tikaf di masjid yang hanya untuk shalat jama'ah lima waktu saja, maka hendaknya ia keluar hanya sekedar untuk shalat Jum'at (jika telah tiba waktunya), kemudian kembali lagi ke tempat iktikafnya semula.

Waktu I'tikaf

I'tikaf disunnahkan kapan saja di sembarang waktu. Maka diperboleh kan bagi setiap muslim untuk memilih waktu kapan ia memulai iktikaf dan kapan mengakhirinya.
Akan tetapi yang paling utama adalah i'tikaf di bulan suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir. Inilah waktu i'tikaf yang terbaik sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih, artinya,
"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri'tikaf sepeninggal beliau."
(HR .al-Bukhari dan Muslim dari A'isyah radhiyallahu 'anha)


Sunnah-Sunnah bagi Orang yang Sedang I'tikaf

Disunnahkan bagi para mu'takif supaya memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk berdzikir, membaca al-Qur'an, mengerjakan shalat sunnah, terkecuali pada waktu-waktu terlarang, serta memperbanyak tafakur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan masa mendatang. Juga banyak-banyak merenungkan tentang hakikat hidup di dunia ini dan kehidupan akhirat kelak.

Hal-Hal yang harus Dihindari Mu'takif

Orang yang sedang i'tikaf dianjurkan untuk menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat seperti banyak bercanda, mengobrol yang tidak berguna sehingga mengganggu konsentrasi i'tikafnya. Karena i'tikaf adalah bertujuan untuk mendapatkan keutamaan bukan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak di- sunnahkan.

Ada sebagian orang yang beri'tikaf, namun dengan meninggalkan tugas dan kewajibannya. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena sungguh tidak proporsional seseorang meninggalkan kewajiban untuk sesuatu yang sunnah. Oleh karena itu, orang yang i'tikaf hendaknya ia menghentikan i'tikafnya, jika memiliki tanggungan atau kewajiban yang harus dikerjakan.

Hal-Hal yang Membolehkan Mu'takif Keluar dari Masjid

Seorang mu'takif diperbolehkan meninggalkan tempat i'tikafnya jika memang ada hal-hal yang sangat mendesak. Di antaranya adalah buang hajat yaitu keluar ke WC untuk buang air, untuk mandi, keluar untuk makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya, dan pergi untuk berobat jika sakit. Demikian pula untuk keperluan syar'i seperti shalat Jum'at, jika tempat ia beriktikaf tidak digunakan untuk shalat Jum'at, menjadi saksi atas suatu perkara dan juga boleh membantu keluarganya yang sakit, jika memang mengharuskan untuk dibantu. Juga keperluan-keperluan semisalnya yang memang termasuk kategori dharuri (keharusan).

Larangan-Larangan dalam I'tikaf

Orang yang sedang beri'tikaf tidak diperbolehkan keluar dari masjid hanya untuk keperluan sepele dan tidak penting, artinya tidak bisa dikategorikan sebagai keperluan syar'i. Jika ia memaksa keluar untuk hal-hal yang tidak perlu tersebut, maka i'tikafnya batal. Selain itu, ia juga dilarang melakukan segala perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), tajassus (mencari-cari kesalahan orang), membaca dan memandang hal-hal yang haram. Pendeknya semua perkara haram di luar i'tikaf, maka pada saat i'tikaf lebih ditekankan lagi keharamannya. Mu'takif juga dilarang untuk menggauli istrinya, karena hal itu membatalkan i'tikafnya.

Menentukan Syarat dalam I'tikaf

Seorang mu'takif diperbolehkan menentukan syarat sebelum melakukan i'tikaf untuk melakukan sesuatu yang mubah. Misalnya saja ia menetapkan syarat agar makan minum harus di rumahnya, hal ini tidak apa-apa. Lain halnya jika ia pulang dengan tujuan menggauli istrinya, keluar masjid agar bisa santai atau mengurusi pekerjaannya, maka i'tikafnya menjadi batal. Karena semua itu bertentangan dengan makna dan pengertian i'tikaf itu sendiri.

Hikmah dan Manfaat i'tikaf

I'tikaf memiliki hikmah yang sangat besar yakni menghidupkan sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan menghidupkan hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala.

Sedangkan manfaat i'tikaf di antaranya:

a.. Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok.
b.. Mendatangkan ketenangan, ketentraman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.
c.. Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah subhanahu wata'ala. Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayang-Nya
d.. Orang yang beri'tikaf pada sepuluh hari terkahir akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.


Mudah-mudahan Allah subhanahu wata'ala memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita agar dapat menjalankan i'tikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, segenap keluarga dan shahabatnya, Amiin.
(Disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman al-Jibrin)

Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta'ala, Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya. Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

sumber: Al Sofwah